Al-Audah ila Iktisyaf Tsauratina, Kitab Pusaka Presiden Soekarno

Kitab berjudul “al-‘Audah ilâ Iktisyâf Tsauratinâ” ini bernilai keramat. Kitab ini diterbitkan di Kairo pada tahun 1959 oleh al-Dâr al-‘Arabiyyah li al-‘Ulûm, dengan tebal 68 halaman. Saya mendapatkan salinan kitab ini dari perpustakaan Biblioteka Alexandria, Mesir.
Apa istimewanya kitab “al-‘Audah ilâ Iktisyâf Tsauratinâ” ini?
Kitab ini merupakan terjemahan dari buku berjudul “Penemuan Kembali Revolusi Kita” yang berasal dari pidato Presiden Republik Indonesia Soekarno pada hari kemerdekaan RI yang ke-14 (17 Agustus 1959).
Dalam pidatonya, Soekarno mengulas berbagai persoalan pokok dan program umum Revolusi Indonesia yang bersifat menyeluruh. Pemikiran pidato ini kemudian menjadi Garis Besar Haluan Negara pada pemerintahan Soekarno.
Pidato ini kemudian dikenal dengan sebutan “Manifesto Politik Republik Indonesia”, setelah sebelumnya Presiden Soekarno mencangkan sistem demokrasi terpimpin dalam mengatur pemerintahan. Berdasarkan Tap MPRS No. I/MPRSI1960, pidato itu kemudian ditetapkan sebagai garis-garis besar haluan negara RI dan pedoman resmi dalam perjuangan penyelesaian revolusi.
Di kancah perpolitikan dunia Arab pada masa itu, kitab ini punya pengaruh yang sangat besar. Kitab ini berisi tentang pandangan-pandangan revolusioner Soekarno yang saat itu ditahbiskan sebagai pemimpin Asia-Afrika, penggagas “Gerakan Non-Blok”, sekaligus pengilham kemerdekaan negara-negara dunia ketiga.
Terlebih lagi Mesir, yang saat itu baru menjalani 7 (tujuh) tahun masa revolusi (Juli 1952) yang dipimpin oleh Gamal Abdel Nasser. Tokoh revolusioner Nasser yang saat itu menjadi presiden Mesir dan dijuluki “Za’îm al-‘Âlam al-‘Arabî” (Pemimpin Dunia Arab) menyatakan dirinya sebagai murid gerakan revolusi Soekarno.
Antara Nasser dan Soekarno terjalin hubungan persahabatan yang sangat erat. Dihitung dari tahun 1959, Presiden Soekarno sebelumnya sudah mengunjungi Mesir sebanyak 2 (dua) kali, yaitu pada 1955 dan 1958.
Keberadaan kitab ini menjadi saksi bisu jika pada masa itu Indonesia yang belum genap 17 tahun masa kemerdekaan sudah memiliki pengaruh yang besar di kancah dunia Arab, menjadi “guru” bagi para pemimpin negara-negara Arab yang saat itu baru merdeka dari penjajahan Inggris dan Prancis.
Lebih dari itu, Indonesia bahkan sudah mampu “mengekspor” ideologi, gagasan, dan kebijakan nasionalnya.
Dalam halaman terakhir kitab “al-‘Audah ilâ Iktisyâf Tsauratinâ”, misalnya, dibuatkan glossary tentang falsafah kerakyatan dan kenegaraan Indonesia, seperti Pancasila (al-Mabâdi al-Khamsah) yang dalam bahasa Arab diterjemahkan butir-butirnya dengan; (1) al-Îmân billâh, (2) al-Insâniyyah, (3) al-Qaumiyyah al-Indûnisiyyah, (4) Siyâdah al-Sya’b, dan (5) al-‘Adâlah al-Ijtimâ’iyyah. Pancasila adalah ideologi hasil ijtihad para pediri bangsa-negara Indonesia yang memanifestasikan perpaduan nilai-nilai luhur keagamaan dan nasionalisme.
Selain Pancasila, tertulis juga tentang “al-Ta’addud fî al-Wihdah” (Bhinneka Tunggal Ika). Dijelaskan disana, bahwa Bhinneka Tunggal Ika adalah (أي أن إندونيسيا بالرغم من تعدد أقاليمها وقبائلها تكون وحدة متماسكة), yakni “bahwasannya Indonesia meskipun terdiri dari berbagai wilayah dan bangsa yang berbeda-beda, namun bersatu dalam kesatuan yang teguh”.
Terdapat juga falsafah hidup khas Nusantara yang diulas di glossary kitab ini, yaitu “al-Ta’âwun al-Musytarak” atau Gotong Royong.
Keberadaan kitab ini sezaman dengan kitab-kitab karangan ulama Nusantara yang ditulis dan diterbitkan di Timur Tengah pada saat itu, seperti Syaikh ‘Abd al-Qâdir al-Mandailî, Syaikh ‘Abd al-Hamîd al-Khatîb al-Minangkabâwî al-Makkî, Syaikh Muhammad Yâsîn ibn ‘Îsâ al-Fâdânî, Syaikh Marzûqî al-Batâwî, Syaikh Ihsân ibn Dahlân al-Jamfasî al-Kedîrî, dan lain-lain.
Di tahun yang sama dengan terbitnya kitab “al-‘Audah ilâ Iktisyâf Tsauratinâ” ini (1959), seorang ulama besar Nusantara, yaitu Haji Abdul Malik Karim Amrullah (HAMKA), diundang untuk datang ke Universitas Al-Azhar Kairo untuk menerima gelar doktor honoris causa (duktûrah al-syaraf).

A. Ginanjar Sya’ban
Dosen Pascasarjana STAINU Jakarta.

IJAZAH KUBRO LASKAR JAUSYAN

DIBUKA UNTUK UMUM (Laki-laki/Perempuan)

Bismillahirrahmanirrahim
Assalamualaikum Wr. Wb.

Diumumkan kepada seluruh kaum muslimin & muslimat dimanapun berada, Alhamdulillah “Majelis Ta’lim wa Dzikir Hizb Hrzil Jausyan & Qasidah Burdah” akan melaksanakan IJAZAH KUBRO dengan tema *Tiada Usaha Yang Dapat Menolak Takdir, Kecuali Do’a* لا يرد القدر الا الدعاء .
yang insyaallah akan dilaksanakan pada:

Hari : Minggu Malam Senin
Tanggal : 10 Februari 2019 / 5 Jumadil Tsani 1440
Waktu : 19.00 WIB s/d selesai
Tempat : MABES LASKAR JAUSYAN* (PP. Hidayatul Mubtadi-ien Pasir Putih)
Kediaman : ABUYA KH. M. JUNAIDI HMS
Jl. Raya Pasir Putih Rt. 03/05 Pasir Putih Sawangan Depok
Al Mujiz. : KH. AHMAD YASIN ASYMUNI (Pengasuh PP. HIDAYATUT THULLAB Petuk Kediri)

SYARAT-SYARAT PESERTA IJAZAH
1. Mendaftarkan diri kepada panitia dengan membayar mahar Rp.100.000,-
2. Membeli kitab wajib juz 1-7 yang akan diijazahkan Rp. 100.000,-
TOTAL : Rp. 200.000,- /orang

FAIDAH KITAB JUS 1-7 TIDAK DAPAT KAMI JABARKAN SECARA DETAIL. FAIDAH TERSEBUT KAMI PILIH INTINYA SAJA, INSYALLAH

Dalam kitab tersebut juga berisi berbagai hizib. Yaitu: Hizib Jausyan, Hizib Alam Nasroh, Hizib Nashr Lil Istighotsah, Hizib Nasr ‘ala A’da’, Hizib Bahr dan Hizib Nawawi.

Demikian pemberitahuan ini yang dapat kami sampaikan, atas perhatiannya disampaikan terima kasih.

DENGAN DO’A, AKAN SEJAHTERA DUNIA & AKHIRAT

Wallohul Muwafiq Ila Aqwamit Thorieq
Wassalamu’alaikum wr. Wb

Informasi & Pendaftaran :
TLP/WA/SMS:

081584939199 (Ust. Farid)
081296894074 (Ust. Achiel)
085779887190 (Sdr. Anwar)

Urgensi Tasawuf Bagi Seorang Muslim

Guru Besar bidang Tasawuf UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Prof Dr H Mukhtar Solihin mengatakan, ada tiga alasan seseorang harus bertasawuf, “Pertama, tasawuf merupakan basis fitri setiap manusia. Ia merupakan potensi Ilahiyah yang berfungsi mendesain peradaban dunia. Tasawuf dapat mewarnai segala aktivitas sosial, politik, ekonomi dan kebudayaan,” kata Mukhtar Solihin saat mengisi FGD bertema “Thoriqoh dalam Pandangan Mbah Hasyim Asy’ari” di kantor PWNU Jawa Barat, Sabtu, (23/4/2016).

Kedua, tasawuf berfungsi sebagai alat pengendali, agar dimensi kemanusiaan tidak ternodai oleh modernisasi yang mengarah dekadensi moral dan anomali nilai, sehingga tasawuf mengantarkan pada “supreme morality” (keunggulan moral).

Ketiga, tasawuf relevansi dengan problem manusia, karena tasawuf secara seimbang memberi kesejukan batin dan disiplin syariah sekaligus. Selain itu, tasawuf dapat membentuk tingkah laku melalui pendekatan tasawuf suluki, dan dapat memuaskan dahaga intelektual melalui pendekatan tasawuf falsafi. Ia bisa diamalkan tiap muslim lapisan manapun. Secara fisik mereka menghadap satu arah (Ka’bah), dan secara rohaniah mereka berlomba menempuh jalan (tarekat) melewati ahwal dan maqam menuju Tuhan yang Satu, Allah SWT.

Dalam diskusi yang diinisiasi oleh Pergunu, Lakpesdam dan Lesbumi NU Jawa Barat dalam rangka Harlah ke-93 NU ini, Mukhtar Solihin juga menjelaskan periodesasi perkembangan tasawuf. Menurutnya sejarah perkembangan tarekat secara garis besar melalui tiga tahap yaitu, tahap Khanaqah, tahap Thariqah dan tahap Tha’ifah.

Tahap Khanaqah (pusat pertemuan sufi) terjadi sekitar abad ke 10 M, di mana seorang syekh mempunyai sejumlah murid yang hidup bersama-sama di bawah peraturan yang tidak ketat. Syekh ini menjadi mursyid (pimpinan) yang dipatuhi. Kontemplasi dan latihan-latihan spiritual dilakukan secara individual dan kolektif. Gerakan ini mempunyai masa keemasan tasawuf.

Berikutnya tahap Thariqah berkembang sekitar abad ke 13 M. Di sini sudah terbentuk ajaran-ajaran, peraturan dan metode tasawuf. Pada masa inilah muncul pusat-pusat yang mengajarkan tasawuf dengan silsilahnya masing-masing. Berkembanglah metode-metode kolektif baru untuk mencapai kedekatan diri kepada Tuhan. Pada periode ini tasawuf telah mencapai kedekatan diri kepada Tuhan, dan di sini tasawuf telah mengambil bentuk kelas menengah.

Tahap selanjutnya yakni Tha’ifah terjadinya sekitar abad ke 15 M. Pada masa ini terjadi transisi misi ajaran dan peraturan kepada pengikut. Muncul organisasi tasawuf yang mempunyai cabang di tempat lain. Pada tahap Tha’ifah inilah tarekat mengandung arti lain, yaitu organisasi sufi yang melestarikan ajaran syekh tertentu. Terdapatlah tarekat-tarekat seperti Tarekat Qadiriyah, Tarekat Naqsyabandiyah, Tarekat Syadziliyah, dan sebagainya.

*Awis Saepuloh/Zunus via NU online

ANTUSIAS MASYARAKAT MENGIKUTI ACARA RUTINAN SELASA KLIWON DZIKRUL GHOFILIN

Alhamdulillah.. telah selesai acara rutinan selasa kliwon di ruang auditorium gedung PCNU Kota Depok lantai 2 Jl. Kalimulya no. 5B Cilodong Kota Depok, yang dipimpin oleh KH. Ahmad Bukhori.

Selanjutnya, Rois Idaroh JATMAN Cabang Kota Depok KH. Fatkhuri Wahmad menyampaikan program-program JATMAN Cabang Kota Depok sekaligus sosialisi.

Acara Rutinan JATMAN Cabang Kota Depok Selasa Kliwon yang diisi Dzikrul Ghofilin berlangsung dengan hikmat, dihadiri sekitar kurang lebih 100 jamaah. Diantaranya perwakilan dari ranting NU dan MWC NU sekota Depok, serta Ketua Lembaga LESBUMI PCNU Kota Depok Romo Donny dan Ketua Banom JQH PCNU Kota Depok alUstadz Imam Nafi alhafidz PCNU Kota Depok.

Tampak hadir Ketua PCNU Kota Depok alustadz Achmad Solechan dan sekretaris H. Nasihun Syahroni, jajaran Syuriah PCNU Kota Depok Kiayi Hariruddin, juga Wakil Ketua PWNU Jawa Barat KH. Raden Salamun Adiningrat. Sementara acara disambut dan dipandu oleh Mudir JATMAN Cabang Kota Depok Romo Willy Albert.

Tampak para sahabat BANSER, sahabat Aris, sahabat irwan irenk, sahabat marsyam, sahabat Yoga, sahabat Leo, dan lainnya mengatur jamaah yang juga berasal dari masyarakat sekitar Depok. alustadz Zakaria, salah satu jamaah mengatakan merasa senang dapat silaturahim dan mengikuti dzikir di PCNU Kota Depok yang diselenggarakan JATMAN Cabang Kota Depok, kemudian turut mendo’akan kebaikan bagi warga Depok dan Negara Kesatuan Republik Indonesia, Demikian beberapa jamaah lain berharap agar diperbanyak acara-acara seperti ini di kota Depok.. Alhamdulillah

senin, 14 Januari 2018
www.jatmandepok.com

Keutamaan Sayidul Istighfar


Sayidul istighfar merupakan lafal istighfar yang paling utama dari sekian bentuk istighfar. Sayidul istighfar memuat pengakuan nikmat dan dosa. Lafal istighfar terbaik ini juga mengandung pengakuan status penciptaan. Ini yang membuat sayidul istighfar lebih utama dari bentuk-bentuk istighfar lainnya. Bunyi sayidul istighfar adalah sebagai berikut.

اَللَّهُمَّ أَنْتَ رَبِّيْ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ خَلَقْتَنِيْ وَأَنَا عَبْدُكَ وَأَنَا عَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَا اسْتَطَعْتُ. أَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعْتُ. أَبُوْءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ. وَأَبُوْءُ بِذَنْبِيْ. فَاغْفِرْ لِيْ فَإِنَّهُ لَا يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ إِلَّا أَنْتَ

Allâhumma anta rabbî, lâ ilâha illâ anta khalaqtanî. Wa anâ ‘abduka, wa anâ ‘alâ ‘ahdika wa wa‘dika mastatha‘tu. A‘ûdzu bika min syarri mâ shana‘tu. Abû’u laka bini‘matika ‘alayya. Wa abû’u bidzanbî. Faghfirlî. Fa innahû lâ yaghfirudz dzunûba illâ anta.

Artinya, “Hai Tuhanku, Engkau Tuhanku. Tiada tuhan yang disembah selain Engkau. Engkau yang menciptakanku. Aku adalah hamba-Mu. Aku berada dalam perintah iman sesuai perjanjian-Mu sebatas kemampuanku. Aku berlindung kepada-Mu dari kejahatan yang kuperbuat. Kepada-Mu, aku mengakui segala nikmat-Mu padaku. Aku mengakui dosaku. Maka itu ampunilah dosaku. Sungguh tiada yang mengampuni dosa selain Engkau,” (Lihat Sayid Utsman bin Yahya, Maslakul Akhyar, Cetakan Al-‘Aidrus, Jakarta).

Sayidul istighfar mengandung keutamaan yang luar biasa. Keindahan dan bobot lafal pengakuan di dalamnya memberikan nilai khusus bagi pembacanya di sisi Allah SWT. Rasulullah SAW menyebut ganjaran khusus bagi mereka yang mengamalkan sayidul istighfar pagi dan sore.

Imam Al-Bukhari meriwayatkan sebuah hadits dari Syaddad bin Aus bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Siapa yang membaca sayidul istighfar di sore hari, lalu ia meninggal di malam itu, niscaya ia termasuk penghuni surga. Demikian juga berlaku bagi mereka yang membaca sayidul istighfar di pagi hari, lalu wafat di hari itu juga, niscaya ia termasuk penghuni surga.”

Keterangan ini disebutkan Imam An-Nawawi dalam Al-Adzkar. Dalam karyanya itu Imam Nawawi memasukkan sayidul istighfar ke dalam doa harian yang dianjurkan untuk dibaca pagi dan sore hari. Wallahu a‘lam.

*Alhafiz K via NU online

PCNU Kota Depok Adakan Acara Ngaji Sejarah

Bagian dari rasa syukur atas nikmat iman islam yang kita peroleh adalah dengan mengaji sejarah MANHAJ DAKWAH ISLAM NUSANTARA. Sejujurnya fadhal / anugerah berupa nikmat islam yang Kami peroleh adalah berawal karena Bapak dan Ibu seorang muslim. Dan Bapak Ibu Kami pun menjadi muslim berawal dari Simbah Kami yang juga seorang muslim. Begitupun Simbah Kami Muslim karena Mbah Buyut Kami juga Muslim dan seterusnya, yang kalau diurut sambung sampai pada perjuangan dakwah para Walisongo yang menyebarkan ajaran Islam di Nusantara.

Karenanya, bagian kecil dari rasa syukur ini kita ngaji sejarah, supaya kita tidak lupa asal muasal kita… mampu mensyukurinya lalu meneruskan perjuangannya. Makanya agak aneh dan su’ul adab, kalau ada generasi yang mengingkari kenikmatan fadhilah islam yang diperolehnya seolah-olah tiba² atau ujug² dirinya menjadi muslim, dan cilakanya bahkan ada yang tidak mengakui adanya peran para walisongo dalam dakwah islam di nusantara. Lupa diri bahwa nikmat islam yang diperoleh adalah melalui wasilah keluarga yang kalau ditarik sampai pada perjuangan walisongo. Dan perjuangan walisongo, metodologi dakwah dan ajarannya ini di teruskan oleh Nahdlatul Ulama (NU).

Malam minggu kemarin, PCNU Kota Depok bersama Islam Nusantara Center Membedah sanad kelmuwan ulama-ulama Nusantara, khususnya ulama Sunda dalam dakwah di tataran bumi sunda, juga di Kota Depok menghadirkan Dr. A. Ginajar Sya’ban, Gus Milal Bizawie, Mas Adit dari Perpusnas di aula Gedung PCNU dipandu Sahabat Dr. Fatkhi Royani, Ketua Lakpesdam NU Depok.

Acara tersebut disiarkan langsung (live streaming) dan dapat diikuti melalui link tautan: https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=2373589889340052&id=254911114937080 . Turut hadir Romo Willy Albert Mudir JATMAN Cabang Kota Depok, membacakan do’a penutup.

*alustadz Achmad Solechan Ketua Tanfidziyah PCNU Kota Depok.

Hukm adz Dzikri bil Ism al Mufrad

Dzikir Ism Mufrad (dzikir Allah…Allah… Allah) boleh menurut:

1. Abul Hasan an-Nuri.
2. Junaid al-Baghdadi.
3. Imam Syibli.
4. Abu Uthman al-Maghribi.
5. Abul Waqti as-Sijzi
6. Imam az-Zabidi
7. Ibn Muzhaffar
8. Imam al-Jariri
9. Shodruddin al-Qunawi
10. Hujjatul Islam al-Ghazali
11. Abdul Qadir al-Jilani
12. Fakhruddin ar-Razi
13. Ahmad ar-Rifai
14. Abul Abbas al-Mursi
15. Ibn Athaillah as-Sakandari
16. Ibn Rajab al-Hanbali
17. Ahmad Zarruq al-Maliki
18. Al-Gharnathi
19. Ibn Amir al-Hajj
20. Ibn Abidin al-Hanafi
21. Al-Khadimi al-Hanafi
22. Syaikhul Islam Zakariya al-Anshori
23. Abdurrauf al-Munawi
24. Ibn Ajibah
25. Imam Ramli
26. Ibn Hajar al-Haitami
27. Murtadha az-Zabidi
28. Al-Bunani
29. Al-Khafaji
30. Al-Qusthallani
31. Al-Khalwati
32. Al-Bakri
33. Ibn al-Baithar
34. Ismail Haqqi
35. Anwar Syah al-Kaysmiri
36. Imam al-Izz bin Abdissalam

Hukm adz Dzikri bil Ism al Mufrad, bainal Mujizin wal Mani’in. Karangan Syaikh Abdul Fattah bin Sholih Qudaisy al Yafi’i.

*oleh yai Hidayat Nur

note: kitab dapat didownload melalui tautan link:

https://elsioufi.files.wordpress.com/2015/12/mawahib-ul-fattah-al-kareem-al-majmua-al-awali.pdf&ved=2ahUKEwjOt-nxzOrfAhXJbn0KHSzoCZwQFjAGegQIAhAB&usg=AOvVaw1MEqC3CI3pLUELx0ssWNol&cshid=1547377439033

Dr Abdul Fattah Qudais Al-Yafi’i pernah hadir pada acara seminar ilmiyah yang digelar PCINU Yaman bekerjasama dengan PPI Hadhramaut dan Asosiasi Mahasiswa Indonesia Al-Ahgaff pada tahun 2015 silam.

Tasawuf dan Gerakan Pemalsuan Sufi

PROF. Dr. Sayyid Muhammad Alwi al-Maliki dalam bukunya “Pemahaman yang Harus Diluruskan” mengatakan bahwa tasawwuf sering dipandang negative oleh sebagaian Muslim. Sufi dengan tasawwufnya adalah bukan bagian ajaran Islam, oleh karenanya ia adalah bid’ah dholalah.

Padahal hakikat benih-benih ajaran tasawwuf banyak bertaburan dalam al-Qur’an. Menurut Dr. Syamsuddin Arif (peneliti INSIST) banyak bertaburan ayat-ayat yang mengajarkan zuhud, dzikir, tawakkal, mengutamakan kebahagiaan akhirat, pertemuan dengan Allah, dan lain sebagainya, yang semuanya ini adalah bagaian dari konsep tasawwuf.

Masih menurut Dr. Syamsuddin Arif, justru pernyataan yang mengatakan bahwa ajaran para sufistik ini tidak dari rahim Islam adalah pendapat dari para orientalis. Adalah Margareth Smith seorang orientalis yang menyatakan bahwa tasawwuf produk samping dari persinggungan antara Islam dengan tradisi agama-agama tua sekelilingnya semisal Yahudi dan Keristen.

Kemudian Alferd von Kremer, R.C orientalis yang beranggapan bahwa tasawwuf lahir dari ajaran Upanishad dan Vedanta Hindu. Ignaz Goldziher dengan teorinya bahwa tasawwuf pengaruh ajaran Budhaisme karena mengajarkan perilaku menolak keduniaan atau asketisme dan pola hidup sederhana.

Dan masih banyak teori orientalis lainnya semisal tasawwuf hasil dari akulturasi budaya Helenisme, tasawwuf wujud reaksinasionalisme Arya terhadap dominasi bangsa Smit dan terakhir bahwa sufisme adalah amalgasi (percampuran) dari ajaran India (Budha dan Hindhu), Persia (Zoroastrianisme), Nashrani, Neo Platonisme, Pseudo-Ariestotelisme, dan Gnotisisme, hasilnya adalah Singkretisme. (Dr. Syamsuddin Arif, Orientalisme dan Diabolisme Pemikiran,hal. 58)

Hakikat Sufisme

Beberapa kutipan pernyataan ulama ahli sufi di bawah ini akan menunjukkan bahwa tasawwuf adalah ajaran sah dan bagaian dari Islam.

Tasawwuf sendiri menurut Imam Abdullah bin Alwi al-Haddad adalah hijarahnya seorang hamba dari akhlak tercela menuju akhlak mulia. Seorang sufi kamil (sempurna) adalah orang yang membersihkan amal, perkataan, niat dan akhlak dari riya’, dan segala yang dapat menimbulkan murka Allah, pun pula pendekatan dhohir dan bathin kepada Allah. (Imam Abdullah bin Alwi al-Haddad, Nafaisu al-uluwiyyah fi al-masail al-shufiyyah wat takhafu al-saail bi jawab al-masaail, hal 103),

Sayid Muhammad alwi al-Maliki ulama muhadits menyatakan: “Kami mengenal tasawwuf sebagai madrasah ilmiah dan ilmu pengetahuan. Tassawuf juga merupakan metodologi, praktik tasawwuf adalah wawasan tertinggi dari khazanah pemikiran Islam.Tasawwuf juga merupakan sisi yang sempurna dari peradabandan cita-cita Islam.Ia juga merupakan gambaran kesempurnaan keimanan dan berbagaisisi kehidupan Muslim”. (Prof. Dr. Sayyid Muhammad bin Alwi al-Maliki, Pemahaman yang Harusdiluruskan, hal. 67)

Al-Imam Junaid al-Baghdadi imam para sufi berkata: “semua jalan telah tertutup bagi makhluk kecuali mereka yang mengikuti jejak Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wassalam, Sunnahnya, dan setia pada jalan yang ditempuh beliau. Karena semua jalan kebaikan terbuak untuk beliau dan mereka yang mengikutinya.” (Al-Hafidz Abi Ahmad bin Abdillah al-Ishhafani, Hilyahal-Auliya’wa Thaqat al-Ashfiya’)

Syeikh Dzunnun al-Mishri berkata: “Pokok pembicaraan tasawwuf ada empat yaitu, cinta kepada Allah yang Maha Agung, benci kepada dunia, mengikuti al-Qur’an, khawatir menjadi manusia tercelaka dan takut menjadi kafir”.

Abu yazid al-Bustami berkata: “Jika engkau memandang seseorang diberi kelebihan hingga mampu terbang ke udara, janganlah engkau tertipu sampai engkau melihat bagaimana sikapnya kepada perintah dan larangan Allah, menjaga batas-batas yang digariskan Allah dan pelaksanaan terhadap syariah.” Inti tasawwuf ialah istiqamah pada adab syariah dengan dalil yang shahih (istiqamah ‘alaadabi al-syariah al-tsabitati bi al-adillati al-shahihati). (Syaikh Hasyim Asy’ari, “al-Duraru al-Muntatsiru fi al-Masaail al-tis’a ‘asyarah”,hal. 06)

Dari beberapa pernyataan para ulama sufi di atas dapat disimpulkan; bahwa hakikat sufisme adalah sebuah metode beribadah kepada Allah dalam rangka menuju ridho Allah, dengan meningkatkan kwalitas tuntunan syariah yang ada. Menurut Dr. Ugi Suharto (Pendiri INSIST), mereka (para sufi) berusaha menerapkan ajaran syariah sesuai dengan apa yang dilakukan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wassallam baik dhohir maupun bathinnya.

Justifikasi Psuedo Sufi

Pendapat negative dan tendensius Orientalisme tentang ajaran sufi di atas ironisnya diamini oleh sebagaian kelompok yang mengklaim dirinya bagian dari sufi. Sebagaian dari mereka berpendapat bahwa tasawwuf dibangun di atas konsep cinta humanistik, perdamaian dan toleransi.

Bagi tareqat yang demikian, akidah agama dipinggirkan, diganti dengan nilai-nilai humanisme.Yang terpenting bagi aliran tasawwuf ini adalah cinta, damai dan toleransi selalu terwujud, meski akidah hasrus digadaikan. Ujung dari aliran tassawwuf ini adalah pluralism. Aliran tassawuf ini menjustifikasi kebenaran teori Orientalisme yang berasumsi bahwa sufisme adalah amalgasi dari ajaran Hindu, Budha, Zoroastrianisme, Nashrani, Neo Platonisme dan Gnotisisme.

Sebagian kelompok lagi berkeyakinan bahwa apabila seorang sufi sudah mencapai puncak kecintaan kepada Allah, dan hatinya jernih selalu mengingat kepada Allah tanpa sedikitpun lupa, sehingga ia bisa memilah antara iman dan kufur, maka ia terbebas dari menjalankan syariat perintah dan larangan Allah. Mereka juga berkeyakinan bahwa Allah tidak akan memasukkan ia ke neraka sebab dosa besar yang ia lakukan.

Mereka berkata, “Kita sudah tidak lagi melaksanakan ibadah dhohir, adapun ibadah kita adalah ibadah dengan berfikir dan melaksanakan kebaikan akhlak batin.

Sebagain lagi berkeyakinan bahwa para sufistik bisa ber-hulul dan ittihad (Allah bisa bertempat pada diri makhluk). Juga ada yang berkeyakinan bahwa adanya proses reinkarnasi (tanasukh al-arwah), dan pindahnya arwah ke alam keabadian dalam diri seseorang dari badan yang satu ke badan yang lain.

Tiga contoh golongan sufi menyimpang di atas adalah bukti justifikasi ajaran sufi atas teori Orientalisme terhadap sufisme. Oleh karenanya mereka bukanlah sufi yang sejati, tapi tidak lebih dari pseudo sufi (sufi palsu).

Menurut Syaikh Hasyim Asyari dalam Kitab Risalah Ahlus Sunnah wal Jamaah, kelompok kedua dari pseudo sufi adalah golongan ibahiyyun. Yaitu golongan menyimpang yang membolehkan untuk meninggalkan kewajiban syariat. Menurut Syeik Muhammad dalam Syarah Ihya’ golongan demikian ini hukumnya sesat, zindiq dan kufur.Sedangkan golongan ketiga adalah bodoh-bodohnya sufi dan hukum mereka adalah kufur nyata (kufr sharih).

Kesimpulan

Hakikat ajaran sufi memiliki landasan dasar yang kuat dalam sumber hukum Islam, oleh karenanya ulama salafas sholihmelaksanakanmya. Gambaran negative tentang sufisme yang gaungkan sebagaian kelompok anti sufi adalah buah karya teori tendensius para Orientalisme. Namun tidak dapat dipungkiri ada golongan sufi menyimpang yang mengamini teori orientalis tersebut. Oleh karenanya mereka yang mengamini teori Orientalisme terhadap ajaran sufistik bukanlah sufi, melainkan pseudo sufi. Wallahu ‘a’lam bi shawwab.*

*Muhammad Saad Alumnus PP. Aqdamul Ulama’ Pasuruan, Mahasiswa Tingkat Akhir Sekolah Tinggi Uluwiyyah Mojokerto

Akhlak Mulia Baginda Nabi Muhammad.S.A.W adalah Akhlak alQur’an alkarim


Sore itu Ujang mengobrol dengan Haji Yunus. Di meja beliau ada kitab Ihya’ Ulumiddin karya Imam al-Ghazali. Ujang lantas bertanya: “Banyak Ustad yang menekankan pentingnya kita ber-akhlak sepertoi akhlak Nabi Muhammad. Wak Haji, seperti apa sih akhlak Nabi kita itu?
Haji Yunus menarik sarungnya yang lusuh, lantas membuka kitab Ihya’ di depannya, “Mari Ujang kita ngaji bersama untuk menjawab pertanyaanmu itu”. Haji Yunus membaca dan menerjemahkannya:

‎كَانَ رَسُولُ الله صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَثِيرَ الضَّرَاعَةِ وَالِابْتِهَالِ دَائِمَ السُّؤَالِ مِنَ الله تَعَالَى أَنْ يُزَيِّنَهُ بِمَحَاسِنِ الْآدَابِ وَمَكَارِمِ الْأَخْلَاقِ فَكَانَ يَقُولُ فِي دُعَائِهِ اللهمَّ حَسِّنْ خُلُقِي وَخَلْقِي وَيَقُولُ اللهمَّ جَنِّبْنِي مُنْكَرَاتِ الْأَخْلَاقِ فَاسْتَجَابَ الله تَعَالَى دُعَاءَهُ وَفَاءً بِقَوْلِهِ عَزَّ وجل {ادعوني أستجب لكم} فأنزل عليه القرآن وأدبه به فكان خلقه القرآن
‎قال سعد بن هشام دخلت على عائشة رضي الله عنها وعن أبيها فسألتها عن أخلاق رَسُولِ الله صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَتْ أما تقرأ القرآن قلت بلى قالت كان خلق رسول الله صلى الله عليه وسلم الْقُرْآنَ

Nabi selalu memohon kepada Allah SWT supaya dihiasi dengan adab yang baik serta akhlak terpuji. Dalam doanya, beliau membaca: Ya Allah, baguskanlan rupa dan akhlakku. Dan beliau juga berdoa: “Ya Allah, jauhkan aku dari akhlak yang munkar,” maka Allah mengabulkan doa beliau sesuai dengan firmanNya “Berdoalah kepada-Ku niscaya Kuperkenankan (permintaan) kamu itu” (QS al-Mu’min: 60). Allah turunkan Al-Qur’an kepada Nabi Muhammad dan dijadikan Al-Qur’an itu bahan pengajaran adab, maka jadilah akhlak Nabi Muhammad itu (seperti isi) Al-Qur’an.
Said bin Hisyam berkata, “Aku masuk menemui Siti Aisyah RA dan bertanya tentang akhlak Rasulullah Saw.” Aisyah menjawab dan bertanya, “Apakah engkau membaca Al-Qur’an?” Aku menjawab, “Iya.” Aisyah menjawab, “Akhlak Nabi SAW adalah Al-Qur’an.”
**
Haji Yunus berkata: “Ujang, kalau akhlak Nabi itu Al-Qur’an, maka mari kita simak sejumlah ayat Al-Qur’an untuk memahami akhlak beliau SAW”. Haji Yunus meneruskan membaca kitab Ihya’:

‎وَإِنَّمَا أَدَّبَهُ الْقُرْآنُ بِمِثْلِ قَوْلِهِ تَعَالَى {خُذِ الْعَفْوَ وَأْمُرْ بِالْعُرْفِ وَأَعْرِضْ عَنِ الْجَاهِلِينَ} وَقَوْلِهِ {إِنَّ الله يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ} وَقَوْلِهِ {وَاصْبِرْ عَلَى مَا أَصَابَكَ إِنَّ ذَلِكَ من عزم الأمور} وقوله {ولمن صبر وغفر إن ذلك لمن عزم الأمور} وَقَوْلِهِ {فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاصْفَحْ إِنَّ الله يُحِبُّ المحسنين} وقوله {وَلْيَعْفُوا وَلْيَصْفَحُوا أَلَا تُحِبُّونَ أَنْ يَغْفِرَ الله لكم} وَقَوْلِهِ {ادْفَعْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ فَإِذَا الَّذِي بينك وبينه عداوة كأنه ولي حميم} وقوله {وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ وَالله يُحِبُّ المحسنين} وَقَوْلِهِ {اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ وَلَا تَجَسَّسُوا وَلَا يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بعضاً} ولما كسرت رباعيته وشج يوم أحد فجعل الدم يسيل على وجهه وهو يمسح الدم ويقول كيف يفلح قوم خضبوا وجه نبيهم بالدم وهو يدعوهم إلى ربهم فأنزل الله تعالى {ليس لك من الأمر شيء} تأديباً له على ذلك

Sungguh Al-Qur’an mengajarkan Rasulullah SAW adab kesantunan sebagaimana dalam ayat, “Jadilah Engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang ma’ruf, serta berpalinglah dari pada orang-orang yang bodoh.” (QS al-A’raf: 199)
Di lain ayat, Allah berfirman, “Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan.” (QS al-Nah,: 90)
Dan firman Allah, “Bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah).” (QS Luqman:17)
Begitu juga dengan ayat “Orang yang bersabar dan memaafkan, sesungguhnya (perbuatan) yang demikian itu termasuk hal-hal yang diutamakan” (QS Asy-Syura: 43) dan “Maka maafkanlah mereka dan biarkan mereka, sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik” (QS al-Maidah:13). Kemudian, “Dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampunimu?” (QS al-Nur:22).
Lanjut dengan ayat “Dan yang sanggup menahan marahnya, serta orang- orang yang mema’afkan (kesalahan) orang lain. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebaikan” (QS Ali Imran:134) dan “jauhilah kebanyakan prasangka (kecurigaan), karena sebagian dari prasangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain” (QS al-Hujurat:12).
Pada perang Uhud, gigi geraham Nabi patah sehingga darah mengucur keluar dan membasahi wajah beliau. Nabi berkata, “Bagaimana suatu kaum akan selamat jika mereka melumuri wajah Nabi mereka dengan darah, sedangkan Nabi mereka mengajak mereka kepada Tuhan” maka, Allah Swt menurunkan ayat, “Tak ada sedikitpun campur tanganmu dalam urusan mereka itu” (QS Ali Imran:128). Ayat-ayat ini bermakna membimbing Rasulullah SAW atas kejadian yang tengah dihadapinya.
**
Haji Yunus mulai berkaca-kaca matanya. Ujang terdiam menundukkan kepalanya. Haji Yunus meneruskan membaca kitab Ihya’:

‎وَأَمْثَالُ هَذِهِ التَّأْدِيبَاتِ فِي الْقُرْآنِ لَا تُحْصَرُ وهو صلى الله عليه وسلم الْمَقْصُودُ الْأَوَّلُ بِالتَّأْدِيبِ وَالتَّهْذِيبِ ثُمَّ مِنْهُ يُشْرِقُ النُّورُ عَلَى كَافَّةِ الْخَلْقِ فَإِنَّهُ أُدِّبَ بِالْقُرْآنِ وَأَدَّبَ الْخَلْقَ بِهِ وَلِذَلِكَ قَالَ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ مَكَارِمَ الْأَخْلَاقِ
‎ ثُمَّ رغب الخلق في محاسن الأخلاق بما أوردناه في كتاب رياضة النفس وتهذيب الأخلاق فلا نعيده ثُمَّ لَمَّا أَكْمَلَ الله تَعَالَى خُلُقَهُ أَثْنَى عَلَيْهِ فَقَالَ تَعَالَى {وَإِنَّكَ لَعَلى خُلُقٍ عَظِيمٍ}

Ayat yang senada seperti di atas banyak dijumpai dalam Al-Qur’an. Semuanya itu dimaksudkan mula-mula yaitu untuk membimbing dan mengarahkan Nabi Saw. Dengan itu, maka sinar pelajaran dari Al-Qur’an dapat menyebar ke seluruh manusia.
Itulah sebabnya Rasulullah SAW bersabda: “Aku diutus untuk menyempurnakan akhlak mulia”. Setelah Allah menyempurnakan akhlak beliau, lalu Allah memujinya: “Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung” (QS al-Qalam:4).
**
Ujang mengangkat tangan, “Wak Haji, adakah contoh praktis dari akhlak Nabi SAW?”
“Iya, ada…” Haji Yunus kemudian lompat ke lembaran berikutnya.

‎لما أتى بسبايا طيء وقفت جارية في السبي فقالت يا محمد إن رأيت أن تخلي عني ولا تشمت بي أحياء العرب فإني بنت سيد قومي وإن أبي كان يحمي الذمار ويفك العاني ويشبع الجائع ويطعم الطعام ويفشي السلام ولم يرد طالب حاجة قط أنا ابنة حاتم الطائي
‎فقال صلى الله عليه وسلم يا جارية هذه صفة المؤمنين حقاً لو كان أبوك مسلماً لترحمنا عليه خلوا عنها فإن أباها كان يحب مكارم الأخلاق وإن الله يحب مكارم الأخلاق فقام أبو بردة بن نيار فقال يا رسول الله الله يحب مكارم الأخلاق فقال والذي نفسي بيده لا يدخل الجنة إلا حسن الأخلاق

Ketika didatangkan sekelompok tawanan Thayyi-in, di antara tawanan tersebut ada seorang gadis belia. Dia berkata, “Hai Muhammad, sudikah engkau membebaskan aku, dan tidak mengecewakan musuh-musuhmu serta tidak mempermalukan orang-orang Arab? Sesungguhnya, aku adalah putri seorang pemimpin di kaumku. Bapakku bertugas melindungi daerahku, membebaskan tawanan, memenuhi kebutuhan orang yang membutuhkan, memberi makan, menyebarkan salam dan tidak pernah mengusir seseorang yang datang kepadanya untuk suatu keperluan. Aku adalah putri dari Hatim al-Tha’i”
Rasulullah Saw berkata, “Wahai budak perempuan, yang kamu sebut adalah semuanya sifat orang-orang mu’min. Andaikata bapakmu seorang Muslim, niscaya kami akan mendoakan rahmat baginya.” Nabi lalu memerintahkan, “Bebaskan dia, sesungguhnya bapaknya menyenangi budi pekerti yang mulia.” Lalu bangun berdiri Abu Bardah bin Niar, seraya-berkata : “Wahai Rasulullah! Allah menyukai akhlaq yang mulia!” Nabi Menjawab: “Demi Allah yang nyawaku dalam kekuatan-Nya! Tiada yang masuk surga kecuali orang yang bagus akhlaknya”
**
“Sampai di sini, mengertikah kamu, Ujang, bahwa Nabi pun memghormati akhlak non-Muslim dan menyanjungnya. Kita tentu malu sekarang kalau non-Muslim lebih banyak yang mengamalkan akhlak mulia ketimbang kita para pengikut Nabi Muhammad,” tegas Haji Yunus. Beliau melanjutkan menerjemahkan:

‎عن معاذ بن جبل عن النبي صلى الله عليه وسلم قال إِنَّ الله حَفَّ الْإِسْلَامَ بِمَكَارِمِ الْأَخْلَاقِ وَمَحَاسِنِ الْأَعْمَالِ وَمِنْ ذَلِكَ حُسْنُ الْمُعَاشَرَةِ وَكَرَمُ الصَّنِيعَةِ وَلِينُ الْجَانِبِ وَبَذْلُ الْمَعْرُوفِ وَإِطْعَامُ الطَّعَامِ وَإِفْشَاءُ السلام وعيادة المريض المسلم براً كان أو فاجراً وتشييع جنازة المسلم وَحُسْنُ الْجِوَارِ لِمَنْ جَاوَرْتَ مُسْلِمًا كَانَ أَوْ كَافِرًا وَتَوْقِيرُ ذِي الشَّيْبَةِ الْمُسْلِمِ وَإِجَابَةُ الطَّعَامِ وَالدُّعَاءُ عَلَيْهِ وَالْعَفْوُ وَالْإِصْلَاحُ بَيْنَ النَّاسِ وَالْجُودُ والكرم والسماحة والابتداء بالسلام وكظم الغيظ والعفو عن الناس

Dari Muaz bin Jabal, Nabi Bersabda: “Sesungguhnya, Islam meliputi akhlak-akhlak yang terpuji dan perilaku yang baik.” Adapun contoh dari akhlak yang terpuji adalah pergaulan yang baik, perbuatan terpuji dan perkataan yang lemah lembut, melakukan perbuatan yang ma’ruf, memberi makan tamu, menyebarkan salam, menziarahi orang Muslim yang sakit baik yang akhlaknya baik maupun yang buruk, mengantarkan jenazah Muslim, berlaku baik kepada tetangga baik yang Muslim maupun yang Kafir, memuliakan yang lebih tua, menghadiri undangan perjamuan makan dan mendoakannya, suka memaafkan, senang mendamaikan, bersifat pemurah, mulia, toleran, memulai memberi salam, menahan amarah dan memberi maaf orang yang minta maaf.
**
Haji Yunus menghela napas. “Masih panjang pembahasan comtoh-contoh akhlak Nabi yang dijelaskan oleh Imam al-Ghazali dalam kitab Ihya’ ini. Silakan dibaca sendiri. Tapi intinya kamu sudah paham belum?”
Ujang mengangguk: “Intinya adalah akhlak Nabi itu Al-Qur’an.”
Haji Yunus berkata: “Benar! Maka kalau kita bertekad membela Al-Qur’an maka kita harus membelanya lewat akhlak Nabi Muhammad yang digambarkan begitu indah dalam Al-Qur’an. Tentu mengherankan kalau kita hendak membela Al-Qur’an tapi dilakukan dengan cara yang jauh dari nilai-nilai akhlak yang terkandung dalam Al-Qur’an dan terwujud dalam contoh budi pekerti Nabi Muhammad yang agung.”
Spontan Ujang berteriak: “takbiiirrrr!!!”
Nadirsyah Hosen, Rais Syuriyah PCI Nahdlatul Ulama Australia – New Zealand dan Dosen Senior Monash Law Schoolre itu Ujang mengobrol dengan Haji Yunus. Di meja beliau ada kitab
Ihya’ Ulumiddin karya Imam al-Ghazali. Ujang lantas bertanya: “Banyak Ustad yang menekankan pentingnya kita ber-akhlak seperti akhlak Nabi Muhammad. Wak Haji, seperti apa sih akhlak Nabi kita itu?
Haji Yunus menarik sarungnya yang lusuh, lantas membuka kitab Ihya’ di depannya, “Mari Ujang kita ngaji bersama untuk menjawab pertanyaanmu itu”. Haji Yunus membaca dan menerjemahkannya:

‎كَانَ رَسُولُ الله صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَثِيرَ الضَّرَاعَةِ وَالِابْتِهَالِ دَائِمَ السُّؤَالِ مِنَ الله تَعَالَى أَنْ يُزَيِّنَهُ بِمَحَاسِنِ الْآدَابِ وَمَكَارِمِ الْأَخْلَاقِ فَكَانَ يَقُولُ فِي دُعَائِهِ اللهمَّ حَسِّنْ خُلُقِي وَخَلْقِي وَيَقُولُ اللهمَّ جَنِّبْنِي مُنْكَرَاتِ الْأَخْلَاقِ فَاسْتَجَابَ الله تَعَالَى دُعَاءَهُ وَفَاءً بِقَوْلِهِ عَزَّ وجل {ادعوني أستجب لكم} فأنزل عليه القرآن وأدبه به فكان خلقه القرآن
‎قال سعد بن هشام دخلت على عائشة رضي الله عنها وعن أبيها فسألتها عن أخلاق رَسُولِ الله صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَتْ أما تقرأ القرآن قلت بلى قالت كان خلق رسول الله صلى الله عليه وسلم الْقُرْآنَ

Nabi selalu memohon kepada Allah SWT supaya dihiasi dengan adab yang baik serta akhlak terpuji. Dalam doanya, beliau membaca: Ya Allah, baguskanlan rupa dan akhlakku. Dan beliau juga berdoa: “Ya Allah, jauhkan aku dari akhlak yang munkar,” maka Allah mengabulkan doa beliau sesuai dengan firmanNya “Berdoalah kepada-Ku niscaya Kuperkenankan (permintaan) kamu itu” (QS al-Mu’min: 60). Allah turunkan Al-Qur’an kepada Nabi Muhammad dan dijadikan Al-Qur’an itu bahan pengajaran adab, maka jadilah akhlak Nabi Muhammad itu (seperti isi) Al-Qur’an.
Said bin Hisyam berkata, “Aku masuk menemui Siti Aisyah RA dan bertanya tentang akhlak Rasulullah Saw.” Aisyah menjawab dan bertanya, “Apakah engkau membaca Al-Qur’an?” Aku menjawab, “Iya.” Aisyah menjawab, “Akhlak Nabi SAW adalah Al-Qur’an.”
**
Haji Yunus berkata: “Ujang, kalau akhlak Nabi itu Al-Qur’an, maka mari kita simak sejumlah ayat Al-Qur’an untuk memahami akhlak beliau SAW”. Haji Yunus meneruskan membaca kitab Ihya’:

‎وَإِنَّمَا أَدَّبَهُ الْقُرْآنُ بِمِثْلِ قَوْلِهِ تَعَالَى {خُذِ الْعَفْوَ وَأْمُرْ بِالْعُرْفِ وَأَعْرِضْ عَنِ الْجَاهِلِينَ} وَقَوْلِهِ {إِنَّ الله يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ} وَقَوْلِهِ {وَاصْبِرْ عَلَى مَا أَصَابَكَ إِنَّ ذَلِكَ من عزم الأمور} وقوله {ولمن صبر وغفر إن ذلك لمن عزم الأمور} وَقَوْلِهِ {فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاصْفَحْ إِنَّ الله يُحِبُّ المحسنين} وقوله {وَلْيَعْفُوا وَلْيَصْفَحُوا أَلَا تُحِبُّونَ أَنْ يَغْفِرَ الله لكم} وَقَوْلِهِ {ادْفَعْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ فَإِذَا الَّذِي بينك وبينه عداوة كأنه ولي حميم} وقوله {وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ وَالله يُحِبُّ المحسنين} وَقَوْلِهِ {اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ وَلَا تَجَسَّسُوا وَلَا يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بعضاً} ولما كسرت رباعيته وشج يوم أحد فجعل الدم يسيل على وجهه وهو يمسح الدم ويقول كيف يفلح قوم خضبوا وجه نبيهم بالدم وهو يدعوهم إلى ربهم فأنزل الله تعالى {ليس لك من الأمر شيء} تأديباً له على ذلك

Sungguh Al-Qur’an mengajarkan Rasulullah SAW adab kesantunan sebagaimana dalam ayat, “Jadilah Engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang ma’ruf, serta berpalinglah dari pada orang-orang yang bodoh.” (QS al-A’raf: 199)
Di lain ayat, Allah berfirman, “Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan.” (QS al-Nah,: 90)
Dan firman Allah, “Bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah).” (QS Luqman:17)
Begitu juga dengan ayat “Orang yang bersabar dan memaafkan, sesungguhnya (perbuatan) yang demikian itu termasuk hal-hal yang diutamakan” (QS Asy-Syura: 43) dan “Maka maafkanlah mereka dan biarkan mereka, sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik” (QS al-Maidah:13). Kemudian, “Dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampunimu?” (QS al-Nur:22).
Lanjut dengan ayat “Dan yang sanggup menahan marahnya, serta orang- orang yang mema’afkan (kesalahan) orang lain. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebaikan” (QS Ali Imran:134) dan “jauhilah kebanyakan prasangka (kecurigaan), karena sebagian dari prasangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain” (QS al-Hujurat:12).
Pada perang Uhud, gigi geraham Nabi patah sehingga darah mengucur keluar dan membasahi wajah beliau. Nabi berkata, “Bagaimana suatu kaum akan selamat jika mereka melumuri wajah Nabi mereka dengan darah, sedangkan Nabi mereka mengajak mereka kepada Tuhan” maka, Allah Swt menurunkan ayat, “Tak ada sedikitpun campur tanganmu dalam urusan mereka itu” (QS Ali Imran:128). Ayat-ayat ini bermakna membimbing Rasulullah SAW atas kejadian yang tengah dihadapinya.
**
Haji Yunus mulai berkaca-kaca matanya. Ujang terdiam menundukkan kepalanya. Haji Yunus meneruskan membaca kitab Ihya’:

‎وَأَمْثَالُ هَذِهِ التَّأْدِيبَاتِ فِي الْقُرْآنِ لَا تُحْصَرُ وهو صلى الله عليه وسلم الْمَقْصُودُ الْأَوَّلُ بِالتَّأْدِيبِ وَالتَّهْذِيبِ ثُمَّ مِنْهُ يُشْرِقُ النُّورُ عَلَى كَافَّةِ الْخَلْقِ فَإِنَّهُ أُدِّبَ بِالْقُرْآنِ وَأَدَّبَ الْخَلْقَ بِهِ وَلِذَلِكَ قَالَ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ مَكَارِمَ الْأَخْلَاقِ
‎ ثُمَّ رغب الخلق في محاسن الأخلاق بما أوردناه في كتاب رياضة النفس وتهذيب الأخلاق فلا نعيده ثُمَّ لَمَّا أَكْمَلَ الله تَعَالَى خُلُقَهُ أَثْنَى عَلَيْهِ فَقَالَ تَعَالَى {وَإِنَّكَ لَعَلى خُلُقٍ عَظِيمٍ}

Ayat yang senada seperti di atas banyak dijumpai dalam Al-Qur’an. Semuanya itu dimaksudkan mula-mula yaitu untuk membimbing dan mengarahkan Nabi Saw. Dengan itu, maka sinar pelajaran dari Al-Qur’an dapat menyebar ke seluruh manusia.
Itulah sebabnya Rasulullah SAW bersabda: “Aku diutus untuk menyempurnakan akhlak mulia”. Setelah Allah menyempurnakan akhlak beliau, lalu Allah memujinya: “Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung” (QS al-Qalam:4).
**
Ujang mengangkat tangan, “Wak Haji, adakah contoh praktis dari akhlak Nabi SAW?”
“Iya, ada…” Haji Yunus kemudian lompat ke lembaran berikutnya.

‎لما أتى بسبايا طيء وقفت جارية في السبي فقالت يا محمد إن رأيت أن تخلي عني ولا تشمت بي أحياء العرب فإني بنت سيد قومي وإن أبي كان يحمي الذمار ويفك العاني ويشبع الجائع ويطعم الطعام ويفشي السلام ولم يرد طالب حاجة قط أنا ابنة حاتم الطائي
‎فقال صلى الله عليه وسلم يا جارية هذه صفة المؤمنين حقاً لو كان أبوك مسلماً لترحمنا عليه خلوا عنها فإن أباها كان يحب مكارم الأخلاق وإن الله يحب مكارم الأخلاق فقام أبو بردة بن نيار فقال يا رسول الله الله يحب مكارم الأخلاق فقال والذي نفسي بيده لا يدخل الجنة إلا حسن الأخلاق

Ketika didatangkan sekelompok tawanan Thayyi-in, di antara tawanan tersebut ada seorang gadis belia. Dia berkata, “Hai Muhammad, sudikah engkau membebaskan aku, dan tidak mengecewakan musuh-musuhmu serta tidak mempermalukan orang-orang Arab? Sesungguhnya, aku adalah putri seorang pemimpin di kaumku. Bapakku bertugas melindungi daerahku, membebaskan tawanan, memenuhi kebutuhan orang yang membutuhkan, memberi makan, menyebarkan salam dan tidak pernah mengusir seseorang yang datang kepadanya untuk suatu keperluan. Aku adalah putri dari Hatim al-Tha’i”
Rasulullah Saw berkata, “Wahai budak perempuan, yang kamu sebut adalah semuanya sifat orang-orang mu’min. Andaikata bapakmu seorang Muslim, niscaya kami akan mendoakan rahmat baginya.” Nabi lalu memerintahkan, “Bebaskan dia, sesungguhnya bapaknya menyenangi budi pekerti yang mulia.” Lalu bangun berdiri Abu Bardah bin Niar, seraya-berkata : “Wahai Rasulullah! Allah menyukai akhlaq yang mulia!” Nabi Menjawab: “Demi Allah yang nyawaku dalam kekuatan-Nya! Tiada yang masuk surga kecuali orang yang bagus akhlaknya”
**
“Sampai di sini, mengertikah kamu, Ujang, bahwa Nabi pun memghormati akhlak non-Muslim dan menyanjungnya. Kita tentu malu sekarang kalau non-Muslim lebih banyak yang mengamalkan akhlak mulia ketimbang kita para pengikut Nabi Muhammad,” tegas Haji Yunus. Beliau melanjutkan menerjemahkan:

‎عن معاذ بن جبل عن النبي صلى الله عليه وسلم قال إِنَّ الله حَفَّ الْإِسْلَامَ بِمَكَارِمِ الْأَخْلَاقِ وَمَحَاسِنِ الْأَعْمَالِ وَمِنْ ذَلِكَ حُسْنُ الْمُعَاشَرَةِ وَكَرَمُ الصَّنِيعَةِ وَلِينُ الْجَانِبِ وَبَذْلُ الْمَعْرُوفِ وَإِطْعَامُ الطَّعَامِ وَإِفْشَاءُ السلام وعيادة المريض المسلم براً كان أو فاجراً وتشييع جنازة المسلم وَحُسْنُ الْجِوَارِ لِمَنْ جَاوَرْتَ مُسْلِمًا كَانَ أَوْ كَافِرًا وَتَوْقِيرُ ذِي الشَّيْبَةِ الْمُسْلِمِ وَإِجَابَةُ الطَّعَامِ وَالدُّعَاءُ عَلَيْهِ وَالْعَفْوُ وَالْإِصْلَاحُ بَيْنَ النَّاسِ وَالْجُودُ والكرم والسماحة والابتداء بالسلام وكظم الغيظ والعفو عن الناس

Dari Muaz bin Jabal, Nabi Bersabda: “Sesungguhnya, Islam meliputi akhlak-akhlak yang terpuji dan perilaku yang baik.” Adapun contoh dari akhlak yang terpuji adalah pergaulan yang baik, perbuatan terpuji dan perkataan yang lemah lembut, melakukan perbuatan yang ma’ruf, memberi makan tamu, menyebarkan salam, menziarahi orang Muslim yang sakit baik yang akhlaknya baik maupun yang buruk, mengantarkan jenazah Muslim, berlaku baik kepada tetangga baik yang Muslim maupun yang Kafir, memuliakan yang lebih tua, menghadiri undangan perjamuan makan dan mendoakannya, suka memaafkan, senang mendamaikan, bersifat pemurah, mulia, toleran, memulai memberi salam, menahan amarah dan memberi maaf orang yang minta maaf.
**
Haji Yunus menghela napas. “Masih panjang pembahasan comtoh-contoh akhlak Nabi yang dijelaskan oleh Imam al-Ghazali dalam kitab Ihya’ ini. Silakan dibaca sendiri. Tapi intinya kamu sudah paham belum?”
Ujang mengangguk: “Intinya adalah akhlak Nabi itu Al-Qur’an.”

wallahu a’lam.

oleh Yai Nadirsyah Hosen, Rais Syuriyah PCI Nahdlatul Ulama Australia – New Zealand dan Dosen Senior Monash Law School

TURBA JATMAN

Dalam rangka *”Sosialisasi & Konsolidasi”* Pengurus *Idaroh Syu’biyyah JATMAN Kota Depok* melakukan serangkaian kunjungan ke beberapa wilayah di seantero Kota Depok. Kegiatan ini merupakan implementasi lanjutan dari hasil Rapat Kerja Jatman Kota Depok yg dilaksanakan belum lama ini, tepatnya pada hari Ahad tanggal 09/12/2018 di Joglo Nusantara Kawasan Setu Pengasinan Kec. Sawangan-Kota Depok.

Kec. Cinere menjadi titik pertama yang menjadi target kunjungan. Rois Jatman Kota Depok, K.H. Fatkhuri Wahmad, MA didampingi beberapa pengurus lainnya pada hari Rabu (08/01/2019) menyambangi Markas Pasilaan Wong Bodo, yang merupakan salah satu basis komunitas Nahdliyyin di kawasan perbatasan Depok-Jakarta Selatan.

Suasana silaturrahim ini dikemas dalam format acara pembacaan Maulid Nabi Muhammad SAW, Dzikir Hizb Bahar & Nashar, serta mau’idhoh hasanah. Dalam kesempatan tersebut, Ust. Romdhoni Hamzah selaku Pengasuh Pasilaan Wong Bodo menyampaikan sambutan hangat atas kehadiran Rois Jatman Depok beserta rombongan. Beliau memberikan apresiasi sekaligus ucapan terima kasih Jatman Depok yang berkenan menyambung tali silaturrahim dg warga Nahdliyyin setempat. Tak ketinggalan beliau juga menegaskan bahwa Pasilaan Wong Bodo berkomitmen untuk memberikan sumbangsih & partisipasi aktif dalam rangka membangkitan gairah warga Nahdliyyin di Cinere & sekitarnya dalam rangka khidmah bagi jam’iyyah NU. Apalagi beliau mengaku mendapatkan amanah sekaligus peringatan dari Kyainya saat lulus dari salah satu Pondok Pesantren di Jawa, agar setelah kembali ke masyarakat jangan pernah keluar dari NU jika mengharapkan ilmunya berkah.

Pada kesempatan lain, Rois Jatman memberikan mauidhoh hasanah khas NU. Dalam ceramahnya beliau memaparkan pentingnya istiqomah dalam menjalankan syari’at Islam. Beliau juga mengingatkan bahwa Istiqomah jg menjadi bagian penting bagi warga Nahdliyyin dalam rangka melestarikan membentengi Aqidah Ahlussunnah Waljamaah An-Nahdliyyah yang menjadi mainstream ideologi keagamaan di Nusantara ini. Hal itu mengingat belakangan ini marak berkembang ideologi transnasional yang mencoba membongkar & bahkan menghancurkan faham Ahlussunnah Wal Jamaah An-Nahdliyyah. Di sinilah beliau menekankan pentingnya seluruh elemen NU merapatkan barisan untuk berjuang memperkokoh & mempertahankanNU sebagai benteng NKRI.

Melengkapi ceramah, beliau selanjutnya memperkenalkan JATMAN sebagai salah satu Badan Otonom (Banom) NU yang fokus garapan utamanya adalah bidang ritual-spiritual. Kehadiran JATMAN menjadi penting sebagai organ pendukung yang memback up perjuangan PCNU Kota Depok sebagai organisasi induk. Beliau mengingtakan kembali bahwa sejarah perjuangan NU hingga menjadi ormas Islam terbesar di Indonesia bahkan di dunia tak lepas dari konstribusi aspek ritual-spiritual yang dijalankan para musassis (pendiri) dan masyaikh NU, yang notabene adalah para ahli thoriqoh. Dengan kata lain, bahwa amaliah-ritual spiritual yang dilakukan para ahli thoriqoh maupun ahli wirid menjadi kebutuhan vital & fundamental bagi perjuangan NU. Apalagi arus modernisasi dan globalisasi saat ini sarat dengan baragam tantangan dan problematika bagi jam’iyyah NU dan warga Nahdliyyin. Oleh karena itu, beliau memandang pentingnya mengkonsolidasikan seluruh Ahli Thoriqoh & Ahli Dzikir utk kepentingan perjuangan NU Depok agar semakin kuat dan bermartabat, sehingga manfaatnya bisa dirasakan bukan hanya oleh warga Nahdliyyin, tetapi juga untuk masyarakat Depok secara luas. “Untuk maksud dan tujuan itulah malam ini saya hadir mewakili Pengurus Jatman Depok di Majlis Pasilaan Wong Bodo Cinere. Semoga silaturrahim ini menjadi momentum awal yang baik dalam rangka merajut kebersamaan dan keuatan di bawah naungan NU”. Demikian pungkas beliau di ujung ceramahnya.