Imam Besar Masjid Istiqlal: 80 Persen Website Islam Dikuasai Kelompok Radikal


Imam Besar Istiqlal Prof. Dr. H. Nasaruddin Umar mengatakan pihaknya melakukan penelitian terkait penyebaran radikalisme di internet. Ditemukan bahwa sebanyak 80 persen website Islam menyebarkan paham tersebut.

“Penelitian kami 80 persen website Islam dikuasai kelompok-kelompok radikal. Hanya 20 persen yang berada di bawah Islam yang dikenal moderat. Itu pun juga paling malas melayani umat dibandingkan yang 80 persen,” tutur Nasaruddin di Kantor Nasaruddin Umar Office ( NUO), Cilandak,Jakarta Selatan, Sabtu (26/1).

Menurut Nasaruddin, 80 persen website yang dikelola kelompok radikal lebih aktif berinteraksi dengan para pengakses alias netizen.

“Itu yang 80 persen, 10 sampai 30 menit ada yang bertanya di web maka langsung dijawab oleh yang dari Inggris, Kanada. Sementara yang 20 persen itu satu bulan bertanya di web enggak ada yang jawab-jawab, kiainya sibuk apa. Jadi ada kelompok yang memanjakan umat,” kata Nasaruddin.

Parahnya, kata Nasaruddin, efek dari kelompok tersebut adalah mempengaruhi netizen lain. Sehingga turut menilai Islam yang berbeda dengan ideologi mereka adalah salah dan sesat. Padahal, beberapa konsep baru yang muncul di masyarakat seharusnya dapat dimaknai lebih objektif.

“Jadi kalau ada istilah-istilah muncul seperti NU garis lurus, itu apa. Adalagi konsep hijrah. Istilah-istilah baru seperti itu punya muatan tersendiri. Saya juga tidak mencurigai itu, tapi ini Indonesia yang dibangun oleh setiap kelompok. Maka tetaplah menjadi Indonesia tanpa mencopy itu. Kita bisa the best muslim meski tidak (meniru) Arab,” Nasaruddin menandaskan.

Reporter:

Nanda Perdana Putra

-Liputan6.com

-Merdeka.com

KH. Ahmad Fakhruddin Murodih Mengundang Dan Menghimbau Pentingnya Mengaji

DEPOK — KH. Ahmad Fakhruddin Murodih selaku suriyah PCNU Kota Depok mengundang warga nahdliyin dan warga kota Depok untuk ngaji di Yayasan al-Murodiyah as-Salimiyah Kota Depok.

Majlis Ta’lim yang Beliu asuh bersama yayasan tersebut beralamat di Jl. Muchtar Gg. Masjid ar-Rahmah Rt01 Rw.08 atau jalan gerbang Villa Casabangka Kota Depok.

“Ngaji itu penting bukan yang penting ngaji. Mari semua hadir setiap hari rabu, malam kamis ba’da maghrib. Salam hormat buat semua”. Undang beliau.

Adapun kajian rutin kitanya adalah :
– Hujjah Aswaja
-Fathul Qorib
-Nashoihuddiniyyah
-Mafahim

“Di Depok ini tiap malam sebenarnya banyak ulama menggelar kajian dan dzikiran, baik warga nahdliyin maupun untuk umum dan warga sekitar, apabila rajin ditelusuri. Para guru kita para kiayi luar biasanya senantiasa menggelar rutin dimana-mana (Kota Depok -red), di tempat yang berbeda. Diharapkan dan dikembalikan kepada warga diharapkan semoga makin memantapkan keimanan, mempererat silaturahim, mengimbangi gairah berislam dengan belajar ilmu agama islam yang terbukti baik dan tepat.” sambut Romo Willy Albert selaku Mudir JATMAN Cabang Kota Depok.

#hg

Acara Rutinan JATMAN Kota Depok dipenuhi Warga

Depok – Acara Rutinan JATMAN Kota Depok dipenuhi Warga, acara rutinan malam jum’at kliwon yang bertempat di Majlis al-Bahrain Kota Depok dipimpin langsung Rois Idaroh JATMAN Cabang Kota Depok, KH. Fatkhuri Wahmad.

Alustadz Syukron membuka dan membacakan susunan acara, selanjutnya diisi dengan acara dzikir manaqib Syaikh Abdul Qadir al-Jalailani (RA).

Acara Rutinan JATMAN Cabang Kota Depok berlangsung hikmat, dihadiri sekitar lebih dari 100 jamaah dari berbagai majlis dzikir dan Shalawat, majlis thoriqoh sekota Depok, dan warga sekitar.

Tampak juga hadir Sekretaris PCNU Kota Depok H. Nasihun Syahroni, jajaran Syuriah, serta Wakil Ketua PWNU Jawa Barat KH. Raden Salamun Adiningrat.

Acara dilanjut dengan muludan dan ditutup do’a oleh Mudir JATMAN Cabang Kota Depok Romo Willy Albert.

Jum’at, 25 Januari 2018 #hg

Menhan : Ada Infiltrasi Radikalisme Wahabi pada Siswa SMA dan Mahasiswa

Palembang – Menteri Pertahanan (Menhan) Ryamizard Ryacudu meminta masyarakat Indonesia agar berhati-hati terhadap perkembangan paham ekstrim radikal wahabisme. Pasalnya, paham ini sudah mulai masuk atau menginfiltrasi pada siswa SMA dan mahasiswa di tanah air.

“Kta perlu mewaspadai bahaya infiltrasi kaderisasi paham ekstrim radikal wahabisme di SMA Negeri dan Universitas Negeri. Paham ini berkedok pembinaan agama dan moral,” kata Ryamizard saat memberikan pembekalan Bela Negara kepada para Ulama dan Habaib di Palembang, Sumatera Selatan, Senin (21/1).

Sebagaimana diketahui Wahabisme atau Salafi adalah sebuah aliran reformasi keagamaan dalam Islam yang ultrakonservatif. Paham ini menginginkan kembali pada ajaran monoteisme murni, kembali ke ajaran Islam sesungguhnya, yang hanya berdasarkan kepada Qur’an dan Hadis, bersih dari segala “ketidakmurnian” seperti praktik-praktik yang dianggap bid’ah, syirik dan khurafat. Paham ini mengutuk penyembahan berhala, pengkultusan orang-orang suci, pemujaan kuburan orang yang saleh, dan melarang menjadikan kuburan sebagai tempat beribadah.

Ryamizard menjelaskan saat ini, banyak bermunculan pemahaman-pemahaman sesat yang tanpa sungkan menyebut pahlawan nasional sebagai kafir. Kemudian anak-anak diajarkan tidak mau menghormat pada bendera merah putih dan tidak mau menghafal Pancasila. Anak-anak pun dilarang bergaul dengan temannya nonmuslim karena menganggap mereka kafir.

Dia melihat semua pemahaman tersebut berawal dari upaya infiltrasi terselubung kaum Wahabi ke sekolah-sekolah dan universitas. Mereka menggunakan strategi Halaqah. Gerakan Tarbiyah memang dikenal menggunakan strategi Halaqah untuk menjamin kaderisasi gerakan. Halaqah menjadi wadah taurits yaitu pewarisan nilai, sikap maupun transfer informasi dan komando. Melalui Halaqah, gerakan Tarbiyah akan melakukan perjuangan bertingkat mulai dari kelompok keluarga.

“Sepak terjang mereka sangat sektarian dan mempertajam segregasi berdasarkan agama. Paham keagamaan sangat monolitik. Pemilihan berdasarkan simbol dan identitas keagamaan diperkuat. Cara pandangnya sangat ekslusif yaitu Muslim dan kafir, serta mudah mengkafirkan,” jelas Ryamizard.

Dia menegaskan strategi Wahabisme di kampus dan sekolah menjadi wadah bersemainya gerakan radikal yang mudah dimobilisasi dengan sistem komando. Wahabisme memanfaatkan ruang kebebasan untuk pelan-pelan membunuh semangat kebangsaaan dan penghormatan pada keberagaman.

“Dengan memanfaatkan fasilitas negara, Wahabisme menyemaikan paham yang mudah mengkafirkan orang lain dan menolak bendera merah putih,” tutup Ryamizard.

Dimuat:

Suara Pembaruan

-Berita satu

-Warta Kota

JATMAN Depok Menggelar Dzikir Manaqib Syaikh Abdul Qodir al-Jailani (RA)

DEPOK – JATMAN Cabang Kota Depok menggelar Dzikir Manaqib Syaikh Abdul Qodir al-Jailani (RA) Bulanan yang rutin setiap malam jum’at kliwon. “Acara ini dalam rangka menjalin silaturrahim dan menghidupkan ajaran Ahlussunnah wal Jama’ah,” demikian ungkap Rois Idaroh JATMAN Cabang Kota Depok.

Acara tersebut akan dilaksanakan Kamis malam Jum’at, 24 Januari 2019 M atau bertepatan dengan 19 Jumadil Awal 1440 tepatnya pada pukul 20.00 WIB hingga selesai.

“Undangan terbuka untuk umum”, lanjut KH. Fatkhuri Wahmad yang juga Syuriah Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama Kota Depok.

Seperti biasa, pengajian akan berlangsung di Majlis asuhan Beliau Majlis al-Bahrain Jl. KH. Abdurrahman No. 15 Pondok Jaya kecamatan Cipayung Kota Depok.

“Patokannya di jalan raya Citayam, setelah pom bensin Pondok Terong ambil kiri, sebrang ponpes arRahmaniyah, silahkan lengkapnya lihat keterangan alamatnya” turut melengkapi keterangan, Mudir JATMAN Cabang Kota Depok, Romo Willy Albert.

#hg

Hidupkan Ajaran Aswaja, Mesofia Rutin Gelar Pengajian Bulanan

TANGERANG – Majelis Sholawat Al-Fatih Indonesia (Mesofia), yang dipimpin oleh KH. M. Thobary Syadzily akan menggelar Pengajian Bulanan Aswaja & Dzikir Shalawat Al-Fatih Nurul Yaqin. “Pengajian ini dalam rangka menjalin tali silaturrahim, menghidupkan ajaran Ahlussunnah wal Jama’ah dan memelihara kebangsaan serta cinta tanah air,” demikian ungkap Anggota Lajnah Tashhih Kutub Thariqiyah Idarah Aliyah JATMAN.

Pengajian tersebut akan dilaksanakan Sabtu malam Ahad, 26 Januari 2019 M atau bertepatan dengan 21 Jumadil Awal 1440 tepatnya pada pukul 20.00 WIB hingga selesai.

“Undangan terbuka untuk umum”, ujar kiyai yang juga menjadi Ketua di Divisi Kajian dan Pengembangan Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama (LDNU).

Seperti biasa, pengajian akan berlangsung di Ponpes yang diasuhnya, yaitu Pondok Pesantren Al-Husna yang beralamat di Jalan M. Toha Raya No. 35, RT 02/RW 02, KM 4,5 Periuk Jaya 15131, Tangerang Kota, Provinsi Banten. (eep – jatman online)

UNDANGAN UMUM BEDAH BUKU FIKIH KEBANGSAAN

Perihal: Undangan
Sifat: Terbuka Untuk Umum

Kepada Yth
Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama Kota Depok, BANOM, LEMBAGA, MWC DAN RANTING, Pondok Pesantren, WARGA KOTA DEPOK DAN SEKITARNYA

*Assalamualaikum Wr. Wb….*

Untuk menyambut *Hari Lahirnya Nahdlatul Ulama yang ke 93*, *Lembaga Bahtsul Masail (LBM) PCNU Kota Depok* bekerja sama dengan *Himpunan Alumni Santri Lirboyo (Himasal) Depok – Bogor, IPNU, dan IPPNU* mengundang bapak/ibu sekalian untuk hadir dalam acara bedah buku *“Islam Nusantara dan Fiqh Kebangsaan”* dengan tema *”Merajut Kebersamaan di tengah Kebhinekaan”* karya Tim Bahtsul Masail PWNU Jawa Timur dan Tim Bahtsul Masail Himasal, yang akan
diselenggarakan pada:

Hari/tanggal: Sabtu, 26 Januari 2019
Pukul: 07.30 s/d selesai WIB
Tempat: Kantor PCNU Depok, Jl. Raya Kalimulia, Kel. Kalimulia Kec. Cilodong Kota Depok

Narasumber:
KH. Fatkhuri Wahmad, MA (Pemateri Islam Nusantara)
Kyai Asnawi Ridwan S. Sy (Pemateri Fiqh Kebangsaan)

Demikian undangan ini kami buat, semoga bapak/ibu berkenan hadir dalam acara
tersebut. Terima kasih.

Wassalam,

Fuad Munir, S. Pd. I
*Ketua Panitia*

*Konfirmasi Kehadiran:*
1. Musfiq (089669728375)
2. Awad (08996169726)

*Fasilitas*
📚 *Buku Islam Nusantara & Fiqh Kebangsaan *(Donasi seikhlasnya)*
🍟*Snack*
☕ *Coffee Break*
🍱 *Lunch*

*NB*
Stok terbatas, siapa cepat, dia dapat.

*Ketentuan Acara:*
1. Peserta dianjurkan memakai atribut NU apabila ada.
2. Peserta wajib registrasi untuk pengambilan buku dan snack.
3. Wajib mengikuti agenda acara sampai selesai.

*Susunan Acara*
1. Pembukaan: Mc
2. Menyanyikan Lagu Indonesia Raya
3. Mars Ya Lal Wathon
4. Sambutan-sambutan
🎙 Fuad Munir (Ketua Panitia)
🎙 Ahmad Solechan, M. Si (Ketua PCNU Depok)
🎙 KH. M. Junaidi HMS (Wakil Rois Syuriah PCNU Depok & Penasehat Himasal Debo)
5. Do’a Penutup & Pembukaan secara simbolis (KH. Zainuddin Ma’shum)
6. Bedah buku Islam Nusantara (KH. Fatkhuri Wahmad, MA)
7. Bedah buku Fiqh Kebangsaan (Kyai Asnawi Ridwan, S. Sy)
8. Foto bersama

*DONASI KEGIATAN*
Demi kelancaran dan kemudahan kegiatan tersebut, kami selaku panitia bedah buku membuka pintu donasi selebar lebarnya dengan estimasi biaya kurang lebih 18 juta. Salurkan bantuan para Dermawan di nomor rekening:
BRI
386701021111530
an
Hani Suprianingsih

Konfirmasi donasi (struk) mohon dikirim ke nomor Whatsapp kami:
089678354415

#lbmbangkit
#bedahbukulbmdepok
#himasaldebo
#ipnu
#ippnu

Diangkatnya Habib Luthfi Memimpin JATMAN

Pendiri JATMAN (Jam’iyyah Ahlith Thariqah al-Mu’tabarah an-Nahdliyyah) ada 5 orang kiai. Dua di antaranya adalah KH Masykur dan KH Idham Chalid. Tiga lainnya adalah KH Abdul Wahab Chasbullah, KH Bisri Syansuri, dan KH Muslih Mranggen.
Al-Quthb Syekh Muhammad Amin Kutbi berpesan kepada Muassis dan Mudhir ‘Aam JATMAN KH Idham Chalid, “Idham, thariqah di Indonesia akan maju dan berkembang bila nanti dipimpin oleh seorang Habib yang bernama Habib Muhammad Luthfi bin Ali bin Hasyim bin Yahya.”
Maka sepulangnya dari Mekkah, KH Idham bertemu dengan Habib Luthfi bin Yahya dan bersalaman dengan durasi yang lama tanpa berkata-kata, tapi Habib Luthfi bersuara berulang-ulang, “Insyaallah, Pak Kiai, saya laksanakan.”
Hal ini membuat hadirin yang melihat pemandangan itu terheran-heran. Selidik punya selidik ternyata keduanya berkomunikasi batin. Kiai Idham bilang, “Habib, nanti kamu yang melanjutkan thariqah.”
Habib Luthfi bin Yahya pun menjawab, “Insyaallah, Pak Kiai, saya laksanakan.”
Saat Muktamar Thariqah, KH Idham berucap kepada ulama yang hadir bahwa dirinya dalam JATMAN diibaratkan seperti orang yang membangun rumah sakit, namun dokter spesialisnya adalah Habib Luthfi bin Yahya.
Tuan Guru Sekumpul Syekh KH Muhammad Zaini bin Abdul Ghani berucap kepada KH Syafriansyah, “KH Idham Chalid itu penegak kita. Beliau lebih dahulu menjadi wali quthub. Kalau menyandingkan fotoku dengan beliau, letakkan posisi beliau di kananku.”
*Dicuplik dari kolom Munawir Aziz, “Habib Luthfi, Jatman, dan Narasi Kebangsaan” di Geotimes.

Membandingkan Kedudukan Ahli Syariat dan Ahli Hakikat

Allah telah menggariskan dan menetapkan jalan hidup hamba-Nya pada dua jenis. Ada mereka yang ditugaskan untuk beribadah secara fisik kepada Allah. Mereka gemar shalat, zikir, puasa, sedekah, dan aneka ibadah fisik lainnya dengan instensitas tinggi. Tetapi ada pula orang-orang yang digariskan oleh Allah untuk mencintai dan merindukan-Nya sebagai disebut Syekh Ibnu Athaillah berikut ini:

قوم أقامهم الحق لخدمته وقوم اختصهم بمحبته كُلًّا نُمِدُّ هَؤُلَاءِ وَهَؤُلَاءِ مِنْ عَطَاءِ رَبِّكَ وَمَا كَانَ عَطَاءُ رَبِّكَ مَحْظُورًا

Artinya, “Sekelompok orang ditempatkan Allah untuk khidmah kepada-Nya. Sekelompok lainnya ditempatkan untuk mencintai-Nya. ‘Kepada masing-masing, baik ini maupun itu, Kami berikan bantuan dari kemurahan Tuhanmu. Sedangkan kemurahan Tuhanmu tidak dapat dihalangi,’ (Surat Al-Isra ayat 20).”

Allah memberikan anugerah kepada kedua kelompok ini. Kelompok pertama biasanya–meski tak selalu–diwakili oleh kalangan syariat. Sementara yang kedua–kadang tak serta merta–diwakili oleh kelompok hakikat. Dia memberikan inayat kepada mereka sehingga mereka merupakan hamba yang terhormat di sisi-Nya. Kita tidak boleh meremehkan salah satunya sebagai disebutkan oleh Syekh Syarqawi berikut ini:

قوم أقامهم الحق) أى اختارهم (لخدمته) بطاعته الظاهرية حتى صلحوا لجنته وهم الزاهدون والعابدون كما مر (وقوم اختصهم بمحبته) حتى صلحوا لقربه والدخول في حضرته وهم المحبون والعارفون والكل مشتركون في الانتساب إليه وخدمته لكن خدمة الأولين أكثرها بالجوارح والآخرين أكثرها بالقلب (كُلًّا نُمِدُّ هَؤُلَاءِ وَهَؤُلَاءِ مِنْ عَطَاءِ رَبِّكَ وَمَا كَانَ عَطَاءُ رَبِّكَ مَحْظُورًا) أى ممنوعا فإذا شهد العبد انفراد الله تعالى بهذه الإقامة والتخصيص منعه ذلك عما ذكر من الاحتقار قال أبو يزيد اطلع الله تعالى على قلوب أوليائه فمنهم من لم يكن يصلح لحمل المعرفة صرفا فشغلهم بالعبادة

Artinya, “(Sekelompok orang ditempatkan) dipilih (Allah untuk khidmah kepada-Nya) melalui ibadah fisik hingga mereka layak menerima surga-Nya. Mereka adalah ahli zuhud dan ahli ibadah. (Sekelompok lainnya ditempatkan untuk mencintai-Nya) sehingga mereka layak dekat dengan-Nya dan masuk ke hadirat-Nya. Mereka adalah pecinta (muhibbin) dan ahli makrifat (arifin). Tetapi dua kelompok berbeda ini tetap bernisbah dan berkhidmah kepada Allah. Hanya saja kelompok pertama lebih banyak berkhidmah dengan fisik. Kelompok kedua lebih banyak berkhidmah dengan batin. (‘Kepada masing-masing, baik ini maupun itu, Kami berikan bantuan dari kemurahan Tuhanmu. Sedangkan kemurahan Tuhanmu tidak dapat dihalangi’) atau dibendung. Ketika menyaksikan keesaan Allah pada penempatan secara khusus hamba-Nya ke dalam dua kelompok itu, niscaya seseorang takkan meremehkan salah satu dari keduanya. Syekh Abu Yazid berkata, ‘Allah memandang hati para wali-Nya. Ketika ada sebagian dari mereka tidak layak menyandang kemakrifatan, Allah mengalihkannya pada ibadah,’” (Lihat Syekh Syarqawi, Syarhul Hikam, Al-Haramain, 2012 M, juz I, halaman 59).

Syekh Ahmad Zarruq menyebutkan lebih rinci siapa di antara mereka yang dipilih untuk khidmah dan siapa yang ditugaskan untuk mencintai-Nya di mana semua berada dalam lingkaran inayat-Nya.

قلت: فالذين أقامهم لخدمته ثلاثة: العباد والزهاد وأهل الطاعة والسداد. فالعباد من يعمل بتحقيق العمل لقصد تحصيل الأمل. والزاهد الفارّ من وجود الخلائق في الظاهر لينفرد همه لمولاه على الأوراد بالغدو والآصال. والذين اختصّهم بمحبته ثلاثة: المحبون والعارفون والواصلون. فالمحب من آثره على كل شيء. والعارف من شهده في كل شيء. والواصل من يغني به عن كل شيء وهم أهل الاجتباء والاختصاص كما أن الذين من قبلهم أهل الهداية والإنابة، قال الله تعالى اللَّهُ يَجْتَبِي إِلَيْهِ مَنْ يَشَاءُ وَيَهْدِي إِلَيْهِ مَنْ يُنِيبُ. فالكل في دائرة الحق، مستمدّون من إحسانه وفضله كما أشار إليه المؤلف بالآية إذ قال كُلًّا نُمِدُّ هَؤُلَاءِ وَهَؤُلَاءِ مِنْ عَطَاءِ رَبِّكَ وَمَا كَانَ عَطَاءُ رَبِّكَ مَحْظُورًا

Artinya, “Menurut saya, orang yang dipilih untuk khidmah kepada-Nya terdiri atas tiga golongan, yaitu ahli ibadah, ahli zuhud, dan hamba yang taat dan lempang. Ahli ibadah beramal dengan maksud terwujud harapan. Ahli zuhud lari dari makhluk secara fisik agar fokus satu tujuan dengan Allah lewat wirid pagi dan sore. Sedangkan orang yang dipilih untuk mencintai-Nya terdiri atas tiga golongan, yaitu pecinta (muhibbin), ahli makrifat (arifin), dan mereka yang sampai di hadirat-Nya (washilin). Pecinta adalah orang yang mengutamakan Allah di atas segalanya. Ahli makrifat adalah orang yang menyaksikan-Nya pada segalanya. Mereka yang sampai adalah orang yang cukup dengan-Nya, tak membutuhkan segalanya. Mereka adalah orang pilihan dan istimewa sebagaimana orang sebelum mereka adalah penerima petunjuk dan orang yang kembali. Allah berfirman dalam Surat As-Syura ayat 13, ‘Allah memilih orang yang Dia kehendaki pada agama tauhid dan memberi petunjuk pada [agama]-Nya bagi orang-orang yang kembali [kepada-Nya].’ Semua golongan ini berada dalam lingkaran Allah dan mendapat pertolongan karena kebaikan dan kemurahan-Nya sebagai diisyaratkan oleh Syekh Ibnu Athaillah melalui Surat Al-Isra ayat 20, ‘Kepada masing-masing, baik ini maupun itu, Kami berikan bantuan dari kemurahan Tuhanmu. Sedangkan kemurahan Tuhanmu tidak dapat dihalangi,’” (Lihat Syekh Ahmad Zarruq, Syarhul Hikam, As-Syirkatul Qaumiyyah, 2010 M/1431 H, halaman 75).

Kedua kelompok ini tentu berbeda. Mereka yang mencintai-Nya memiliki derajat lebih tinggi dibanding mereka yang berkhidmah. Oleh karena itu, mereka yang belum layak menduduki maqam makrifat kembali ditugaskan untuk beribadah dengan intensitas tinggi sebagai wujud penempaan diri. Meskipun kedua kelompok ini memiliki derajat berbeda, kita tidak boleh meremehkan salah satunya. Pasalnya, semua merupakan orang pilihan Allah sebagaimana pandangan Syekh Ibnu Ajibah berikut ini:

قلت العباد المخصوصون بالعناية على قسمين…ولكن حكمة الحكيم أقامتهم في خدمتهم فوجب تعظيمهم في الجملة ولا يلزم منه عدم تفضيل أهل المعرفة والمحبة عليهم انظر كيف قال تعالى بعد ذلك انْظُرْ كَيْفَ فَضَّلْنَا بَعْضَهُمْ عَلَى بَعْضٍ وَلَلْآخِرَةُ أَكْبَرُ دَرَجَاتٍ وَأَكْبَرُ تَفْضِيلًا، فدل على تفضيل بعضهم على بعض لكن عبيد الملك كلهم معظمون في الجملة ولا يحب الملك أن تحقر له عبداً من عباده وإن كانوا متفاوتين عنده والله تعالى أعلم

Artinya, “Menurut saya, hamba Allah yang khusus mendapat inayah dari-Nya terdiri atas dua kelompok… tetapi hikmah di balik penempatan satu kelompok untuk khidmah kepada-Nya, adalah penghormatan kepada mereka secara umum. Hal ini tidak serta merta menafikan kelebihan ahli makrifat dan para pecinta di atas kalangan abidin dan zahidin. Coba perhatikan firman Allah setelah itu, ‘Lihatlah bagaimana Kami melebihkan sebagian di atas sebagian lainnya. Derajat dan keutamaan kehidupan akhirat lebih tinggi dan lebih utama,’ (Surat Isra ayat 21). Ayat ini menunjukkan keutamaan sebagian kelompok di atas kelompok lainnya. Hanya saja secara umum semua hamba Allah itu mulia. Allah tidak adakan meremehkan hamba-Nya dari kelompok mana saja sekalipun derajat mereka berbeda di sisi-Nya. Wallahu a‘lam,”(Lihat Syekh Ibnu Ajibah Al-Hasani, Iqazhul Himam, Beirut, Darul Fikr, tanpa catatan tahun, juz I, halaman 108-109).

Hikmah ini menegaskan bahwa keduanya memiliki derajat berbeda di sisi Allah. Ini sebuah kenyataan yang harus diterima. Hanya saja hikmah ini mendidik kita untuk tidak meremehkan salah satu dari kedua jenis hamba Allah ini, sebuah kesalahan yang sering kita perbuat.

Menurut Syekh Ibnu Ajibah, perbedaan derajat mereka di sisi Allah itu bukan alasan bagi kita untuk merendahkan salah satunya. Amanat Surat Al-Isra ayat 20-21 ini sering terlupakan oleh kita yang kerap mengagungkan salah satunya sekaligus meremehkan yang lain. Wallahu a‘lam. (Alhafiz K)llah telah menggariskan dan menetapkan jalan hidup hamba-Nya pada dua jenis. Ada mereka yang ditugaskan untuk beribadah secara fisik kepada Allah. Mereka gemar shalat, zikir, puasa, sedekah, dan aneka ibadah fisik lainnya dengan instensitas tinggi. Tetapi ada pula orang-orang yang digariskan oleh Allah untuk mencintai dan merindukan-Nya sebagai disebut Syekh Ibnu Athaillah berikut ini:

قوم أقامهم الحق لخدمته وقوم اختصهم بمحبته كُلًّا نُمِدُّ هَؤُلَاءِ وَهَؤُلَاءِ مِنْ عَطَاءِ رَبِّكَ وَمَا كَانَ عَطَاءُ رَبِّكَ مَحْظُورًا

Artinya, “Sekelompok orang ditempatkan Allah untuk khidmah kepada-Nya. Sekelompok lainnya ditempatkan untuk mencintai-Nya. ‘Kepada masing-masing, baik ini maupun itu, Kami berikan bantuan dari kemurahan Tuhanmu. Sedangkan kemurahan Tuhanmu tidak dapat dihalangi,’ (Surat Al-Isra ayat 20).”
Allah memberikan anugerah kepada kedua kelompok ini. Kelompok pertama biasanya–meski tak selalu–diwakili oleh kalangan syariat. Sementara yang kedua–kadang tak serta merta–diwakili oleh kelompok hakikat. Dia memberikan inayat kepada mereka sehingga mereka merupakan hamba yang terhormat di sisi-Nya. Kita tidak boleh meremehkan salah satunya sebagai disebutkan oleh Syekh Syarqawi berikut ini:

قوم أقامهم الحق) أى اختارهم (لخدمته) بطاعته الظاهرية حتى صلحوا لجنته وهم الزاهدون والعابدون كما مر (وقوم اختصهم بمحبته) حتى صلحوا لقربه والدخول في حضرته وهم المحبون والعارفون والكل مشتركون في الانتساب إليه وخدمته لكن خدمة الأولين أكثرها بالجوارح والآخرين أكثرها بالقلب (كُلًّا نُمِدُّ هَؤُلَاءِ وَهَؤُلَاءِ مِنْ عَطَاءِ رَبِّكَ وَمَا كَانَ عَطَاءُ رَبِّكَ مَحْظُورًا) أى ممنوعا فإذا شهد العبد انفراد الله تعالى بهذه الإقامة والتخصيص منعه ذلك عما ذكر من الاحتقار قال أبو يزيد اطلع الله تعالى على قلوب أوليائه فمنهم من لم يكن يصلح لحمل المعرفة صرفا فشغلهم بالعبادة

Artinya, “(Sekelompok orang ditempatkan) dipilih (Allah untuk khidmah kepada-Nya) melalui ibadah fisik hingga mereka layak menerima surga-Nya. Mereka adalah ahli zuhud dan ahli ibadah. (Sekelompok lainnya ditempatkan untuk mencintai-Nya) sehingga mereka layak dekat dengan-Nya dan masuk ke hadirat-Nya. Mereka adalah pecinta (muhibbin) dan ahli makrifat (arifin). Tetapi dua kelompok berbeda ini tetap bernisbah dan berkhidmah kepada Allah. Hanya saja kelompok pertama lebih banyak berkhidmah dengan fisik. Kelompok kedua lebih banyak berkhidmah dengan batin. (‘Kepada masing-masing, baik ini maupun itu, Kami berikan bantuan dari kemurahan Tuhanmu. Sedangkan kemurahan Tuhanmu tidak dapat dihalangi’) atau dibendung. Ketika menyaksikan keesaan Allah pada penempatan secara khusus hamba-Nya ke dalam dua kelompok itu, niscaya seseorang takkan meremehkan salah satu dari keduanya. Syekh Abu Yazid berkata, ‘Allah memandang hati para wali-Nya. Ketika ada sebagian dari mereka tidak layak menyandang kemakrifatan, Allah mengalihkannya pada ibadah,’” (Lihat Syekh Syarqawi, Syarhul Hikam, Al-Haramain, 2012 M, juz I, halaman 59).
Syekh Ahmad Zarruq menyebutkan lebih rinci siapa di antara mereka yang dipilih untuk khidmah dan siapa yang ditugaskan untuk mencintai-Nya di mana semua berada dalam lingkaran inayat-Nya.

قلت: فالذين أقامهم لخدمته ثلاثة: العباد والزهاد وأهل الطاعة والسداد. فالعباد من يعمل بتحقيق العمل لقصد تحصيل الأمل. والزاهد الفارّ من وجود الخلائق في الظاهر لينفرد همه لمولاه على الأوراد بالغدو والآصال. والذين اختصّهم بمحبته ثلاثة: المحبون والعارفون والواصلون. فالمحب من آثره على كل شيء. والعارف من شهده في كل شيء. والواصل من يغني به عن كل شيء وهم أهل الاجتباء والاختصاص كما أن الذين من قبلهم أهل الهداية والإنابة، قال الله تعالى اللَّهُ يَجْتَبِي إِلَيْهِ مَنْ يَشَاءُ وَيَهْدِي إِلَيْهِ مَنْ يُنِيبُ. فالكل في دائرة الحق، مستمدّون من إحسانه وفضله كما أشار إليه المؤلف بالآية إذ قال كُلًّا نُمِدُّ هَؤُلَاءِ وَهَؤُلَاءِ مِنْ عَطَاءِ رَبِّكَ وَمَا كَانَ عَطَاءُ رَبِّكَ مَحْظُورًا

Artinya, “Menurut saya, orang yang dipilih untuk khidmah kepada-Nya terdiri atas tiga golongan, yaitu ahli ibadah, ahli zuhud, dan hamba yang taat dan lempang. Ahli ibadah beramal dengan maksud terwujud harapan. Ahli zuhud lari dari makhluk secara fisik agar fokus satu tujuan dengan Allah lewat wirid pagi dan sore. Sedangkan orang yang dipilih untuk mencintai-Nya terdiri atas tiga golongan, yaitu pecinta (muhibbin), ahli makrifat (arifin), dan mereka yang sampai di hadirat-Nya (washilin). Pecinta adalah orang yang mengutamakan Allah di atas segalanya. Ahli makrifat adalah orang yang menyaksikan-Nya pada segalanya. Mereka yang sampai adalah orang yang cukup dengan-Nya, tak membutuhkan segalanya. Mereka adalah orang pilihan dan istimewa sebagaimana orang sebelum mereka adalah penerima petunjuk dan orang yang kembali. Allah berfirman dalam Surat As-Syura ayat 13, ‘Allah memilih orang yang Dia kehendaki pada agama tauhid dan memberi petunjuk pada [agama]-Nya bagi orang-orang yang kembali [kepada-Nya].’ Semua golongan ini berada dalam lingkaran Allah dan mendapat pertolongan karena kebaikan dan kemurahan-Nya sebagai diisyaratkan oleh Syekh Ibnu Athaillah melalui Surat Al-Isra ayat 20, ‘Kepada masing-masing, baik ini maupun itu, Kami berikan bantuan dari kemurahan Tuhanmu. Sedangkan kemurahan Tuhanmu tidak dapat dihalangi,’” (Lihat Syekh Ahmad Zarruq, Syarhul Hikam, As-Syirkatul Qaumiyyah, 2010 M/1431 H, halaman 75).
Kedua kelompok ini tentu berbeda. Mereka yang mencintai-Nya memiliki derajat lebih tinggi dibanding mereka yang berkhidmah. Oleh karena itu, mereka yang belum layak menduduki maqam makrifat kembali ditugaskan untuk beribadah dengan intensitas tinggi sebagai wujud penempaan diri. Meskipun kedua kelompok ini memiliki derajat berbeda, kita tidak boleh meremehkan salah satunya. Pasalnya, semua merupakan orang pilihan Allah sebagaimana pandangan Syekh Ibnu Ajibah berikut ini:

قلت العباد المخصوصون بالعناية على قسمين…ولكن حكمة الحكيم أقامتهم في خدمتهم فوجب تعظيمهم في الجملة ولا يلزم منه عدم تفضيل أهل المعرفة والمحبة عليهم انظر كيف قال تعالى بعد ذلك انْظُرْ كَيْفَ فَضَّلْنَا بَعْضَهُمْ عَلَى بَعْضٍ وَلَلْآخِرَةُ أَكْبَرُ دَرَجَاتٍ وَأَكْبَرُ تَفْضِيلًا، فدل على تفضيل بعضهم على بعض لكن عبيد الملك كلهم معظمون في الجملة ولا يحب الملك أن تحقر له عبداً من عباده وإن كانوا متفاوتين عنده والله تعالى أعلم

Artinya, “Menurut saya, hamba Allah yang khusus mendapat inayah dari-Nya terdiri atas dua kelompok… tetapi hikmah di balik penempatan satu kelompok untuk khidmah kepada-Nya, adalah penghormatan kepada mereka secara umum. Hal ini tidak serta merta menafikan kelebihan ahli makrifat dan para pecinta di atas kalangan abidin dan zahidin. Coba perhatikan firman Allah setelah itu, ‘Lihatlah bagaimana Kami melebihkan sebagian di atas sebagian lainnya. Derajat dan keutamaan kehidupan akhirat lebih tinggi dan lebih utama,’ (Surat Isra ayat 21). Ayat ini menunjukkan keutamaan sebagian kelompok di atas kelompok lainnya. Hanya saja secara umum semua hamba Allah itu mulia. Allah tidak adakan meremehkan hamba-Nya dari kelompok mana saja sekalipun derajat mereka berbeda di sisi-Nya. Wallahu a‘lam,”(Lihat Syekh Ibnu Ajibah Al-Hasani, Iqazhul Himam, Beirut, Darul Fikr, tanpa catatan tahun, juz I, halaman 108-109).
Hikmah ini menegaskan bahwa keduanya memiliki derajat berbeda di sisi Allah. Ini sebuah kenyataan yang harus diterima. Hanya saja hikmah ini mendidik kita untuk tidak meremehkan salah satu dari kedua jenis hamba Allah ini, sebuah kesalahan yang sering kita perbuat.
Menurut Syekh Ibnu Ajibah, perbedaan derajat mereka di sisi Allah itu bukan alasan bagi kita untuk merendahkan salah satunya. Amanat Surat Al-Isra ayat 20-21 ini sering terlupakan oleh kita yang kerap mengagungkan salah satunya sekaligus meremehkan yang lain. Wallahu a‘lam.

*Alhafiz K NU Online

Makna Salam

Syekh Nawawi menjelaskan, ketika seseorang beruluk salam kepada kedua malaikat itu maka keduanya akan membalas salam tersebut. Artinya orang yang bersalam itu didoakan keselamatan oleh kedua malaikat yang ia salami. Dan barangsiapa yang disalami atau didoakan keselamatan oleh malaikat maka ia akan selamat dari siksa Allah Ta’ala.
Demikian penjelasan ini disampaikan oleh Syekh Muhammad Nawawi Banten di dalam kitab tafsirnya Marâh Labîd atau yang juga dikenal dengan nama Tafsîr Al-Munîr. Beliau menuturkan:
وإذا استقبلك واحد فقل: سلام عليكم واقصد الرجل والملكين فإنك إذا سلمت عليهما ردا السلام عليك ومن سلم الملك عليه فقد سلم من عذاب الله
Artinya: “Apabila satu orang menghadapmu maka ucapkanlah ‘salâmun ‘alaikum’ dan niatilah salam itu untuk satu orang tersebut dan dua orang malaikat (yang mendampinginya). Karena bila engkau bersalam kepada kedua malaikat itu maka keduanya akan membalas salammu dan barangsiapa yang disalami oleh malaikat maka ia selamat dari siksa Allah.” (Muhammad Nawawi Al-Jawi, Marâh Labîd, [Beirut: Darul Fikr, 2007], juz I, hal. 181)
Atas penjelasan Syekh Nawawi ini KH. Subhan Makmun, pengasuh Pondok Pesantren Salafiyah Luwungragi Brebes dan juga Rais Syuriyah PBNU, mengajarkan agar ketika seseorang akan bepergian hendaknya sebelum mengendarai kendaraannya ia mengucapkan salam terlebih dahulu kepada anggota keluarganya.
Apa yang disampaikan oleh Kiai Subhan ini bisa dimengerti bahwa dengan bersalam kepada keluarga sebelum bepergian maka diharapkan para malaikat akan ikut membalas salamnya yang berarti mendoakan keselamatan baginya sehingga diharapkan ia selamat terhindar dari berbagai mara bahaya selama dalam perjalanan. Wallâhu a’lam.
*Ustadz Yazid Muttaqin