MBAH ABDUL MALIK

Mengenal Syaikh Abdul Malik, Sesepuh Mursyid Naqsabandiyah Khalidiyah Tanah Jawa Kelahiran Banyumas

Inilah kisah sosok ulama yang cukup disegani di Banyumas Jawa Tengah: Syaikh Abdul Malik. Semasa hidupnya Syaikh Abdul Malik memegang dua thariqah besar (sebagai mursyid) yaitu: Thariqah An-Naqsabandiyah Al-Khalidiyah dan Thariqah Asy-Syadziliyah.

Asy-Syaikh Abdul Malik lahir di dusun Kedung Paruk, desa Ledug, kini masuk wilayah Kecamatan Kembaran, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, pada hari Jum’at 3 Rajab 1294 H (1881). Nama kecilnya Muhammad Ash’ad sedang nama Abdul Malik diperoleh dari ayahnya, KH Muhammad Ilyas ketika ia menunaikan ibadah haji bersamanya. Sejak kecil Asy-Syaikh Abdul Malik telah memperoleh pengasuhan dan pendidikan secara langsung dari kedua orang tuanya dan saudara-saudaranya yang ada di Sokaraja, Banyumas terutama dengan KH Muhammad Affandi.

Anda yang ingin berziarah ke makan beliau, untuk menuju kompleks makam Syaikh Abdul Malik cukup mudah. Dari pertigaan Berkoh, Purwokerto Timur ke utara arah jembatan Kali Pelus. Setelah jembatan ada jalan ke barat dan terpampang Jl Syaikh KH Abdul Malik. Diantara rimbunan pohon salak dan kompleks TPA (Taman Pendidikan Al Qur’an ) dan Pondok Pesantren KH Abdul Malik, tepatnya di sebelah barat kompleks masjid Baitul Haq, ada kompleks makam Sesepuh Mursyid Naqsandiyah Kholodiyah, Syaikh Abdul Malik atau yang dikenal sebagai Mbah Malik di kalangan thareqat.

Jejak Dakwah Mbah Malik

Ayahnya adalah KH Muhammad Ilyas bin H Aly Dipowongso. Syaikh Muhammad Ilyas trukah berdakwah di wilayah eks Karsidenan Banyumas dimulai dari grumbul Kedungparuk, sekembalinya dari menuntut ilmu selama puluhan tahun di Mekkah. Guru Ilyas, demikian nama yang lebih dikenal, dilahirkan di Kedung Paruk sekitar tahun 1186 H/1765 M dari seorang ibu bernama Siti Zaenab binti Maseh bin KH Abdussamad (Mbah Jombor). Guru Ilyas mulai menyebarkanluaskan thariqah Naqsabandiyah Khalidiyah sesuai tugas dan amanah gurunya yakni Syaikh Sulaiman Zuhdi Al Makki sekitar tahun 1246 H/1825 M pada usia 60 tahun.

Guru Ilyas mengajarkan Al-Qur’an kepada anaknya, Abdul Malik. Kemudian Abdul Malik mendalami Al-Qur’an lebih lanjut kepada KH Abu Bakar bin H Yahya Ngasinan (Kebasen, Banyumas). Pada tahun 1312 H, ketika Abdul Malik sudah menginjak usia dewasa, oleh ayahnya dikirim ke Mekkah untuk menimba ilmu agama. Di sana ia mempelajari berbagai disiplin ilmu agama diantaranya ilmu Al-Qur’an, tafsir, Ulumul Qur’an, Hadits, Fiqh, Tasawuf dan lain-lain. Abdul Malik dewasa belajar di Tanah Suci dalam waktu yang cukup lama, kurang lebih selama limabelas tahun.

Dalam ilmu Al-Qur’an, khususnya ilmu Tafsir dan Ulumul Qur’an, ia berguru kepada Sayid Umar Asy-Syatha’ dan Sayid Muhammad Syatha’ (putra penulis kitab I’anatuth Thalibin Hasyiyah Fathul Mu’in). Dalam ilmu hadits, ia berguru Sayid Tha bin Yahya Al-Magribi (ulama Hadramaut yang tinggal di Mekkah), Sayid Alwi bin Shalih bin Aqil bin Yahya, Sayid Muhsin Al-Musawwa, Asy-Syaikh Muhammad Mahfudz bin Abdullah At-Tirmisi. Dalam bidang ilmu syariah dan thariqah alawiyah ia berguru pada Habib Ahmad Fad’aq, Habib Aththas Abu Bakar Al-Attas, Habib Muhammad bin Idrus Al-Habsyi (Surabaya), Habib Abdullah bin Muhsin Al-Attas (Bogor), dan Kyai Soleh Darat (Semarang).

Sementara itu, guru-gurunya di Madinah adalah Sayid Ahmad bin Muhammad Amin Ridwan, Sayid Abbas bin Muhammad Amin Ridwan, Sayid Abbas Al Maliki Al-Hasani (kakek Sayid Muhammad bin Alwi Al Maliki Al-Hasani), Sayid Ahmad An-Nahrawi Al Makki, Sayid Ali Ridha.

Setelah sekitar 15 tahun menimba ilmu di Tanah Suci, pada tahun 1327 H, Abdul Malik pulang ke kampung halaman untuk berkhidmat kepada kedua orang tuanya yang saat itu sudah sepuh. Kemudian pada tahun 1333 H, sang ayah, Asy Syaikh Muhammad Ilyas alias Guru Ilyas berpulang ke Rahmatullah.

Sepeninggal sang ayah, Abdul Malik kemudian mengembara ke berbagai daerah di Pulau Jawa dengan berjalan kaki, guna menambah wawasan dan pengetahuan. Ia pulang ke rumah tepat pada hari ke-100 wafatnya sang ayah, dan saat itu umur Abdul Malik menginjak tiga puluh tahun. Sepulang dari pengembaraannya itu, ia tidak tinggal lagi di Sokaraja, tetapi menetap di Kedung Paruk bersama ibundanya, Nyai Zainab.

Perlu diketahui, Asy-Syaikh Abdul Malik sering sekali membawa jemaah haji Indonesia asal Banyumas dengan menjadi pembimbing dan syaikh. Mereka bekerjasama dengan Asy-Syaikh Mathar Mekkah, dan aktivitas itu dilakukan dalam rentang waktu yang cukup lama.

Sehingga wajarlah kalau selama menetap di Mekkah, ia memperdalam lagi ilmu-ilmu agama dengan para ulama dan syaikh yang ada di sana. Berkat keluasan dan kedalaman ilmunya, Syaikh Abdul Malik pernah memperoleh dua anugrah yakni pernah diangkat menjadi Wakil Mufti Madzab Syafi’i di Mekkah dan juga diberi kesempatan untuk mengajar. Pemerintah Saudi sendiri sempat memberikan hadiah berupa sebuah rumah tinggal yang terletak di sekitar Masjidil Haram atau tepatnya di dekat Jabal Qubes. Anugrah yang sangat agung ini diberikan oleh Pemerintah Saudi hanya kepada para ulama yang telah memperoleh gelar Al-‘Allamah.

Syaikh Ma’shum (Lasem, Rembang) setiap berkunjung ke Purwokerto, seringkali menyempatkan diri singgah di rumah Asy-Syaikh Abdul Malik dan mengaji kitab Ibnu Aqil Syarah Alfiyah Ibnu Malik secara tabarrukan (meminta barakah) kepada Asy-Syaikh Abdul Malik. Demikian pula dengan Mbah Dimyathi (Comal, Pemalang), KH Khalil (Sirampog, Brebes), KH Anshori (Linggapura, Brebes), KH Nuh (Pageraji, Banyumas) yang merupakan kiai-kiai yang hafal Al-Qur’an, mereka kerap sekali belajar ilmu Al-Qur’an kepada Syaikh Abdul Malik.

Kehidupan Syaikh Abdul Malik sangat sederhana, di samping itu ia juga sangat santun dan ramah kepada siapa saja. Beliau juga gemar sekali melakukan silaturrahiem kepada murid-muridnya yang miskin. Baik mereka yang tinggal di Kedung Paruk maupun di desa-desa sekitarnya seperti Ledug, Pliken, Sokaraja, Dukuhwaluh, Bojong dan lain-lain.

Hampir setiap hari Selasa pagi, dengan kendaraan sepeda, naik becak atau dokar, Syaikh Abdul Malik mengunjungi murid-muridnya untuk membagi-bagikan beras, uang dan terkadang pakaian sambil mengingatkan kepada mereka untuk datang pada acara pengajian Selasanan (Forum silaturrahiem para pengikut Thariqah An-Naqsyabandiyah Al-Khalidiyah Kedung Paruk yang diadakan setiap hari Selasa dan diisi dengan pengajian dan tawajjuhan).

Konon beliau mengamalkan lebih dari 12 thariqah, hanya saja yang diturunkan paling tidak 4 thariqah yaitu naqsyabandi al-khalidi, syadziliyah, qairiyah naqsyabandiyah dan alawiyah. Di samping memberikan pelajaran tentang ilmu tashawuf (Thariqah), beliau juga mengembangkan ilmu al-qur’an (tahfidul-qur’an dan qira;ah sab’ah). Tidak sedikit para hafidh dan qari’ datang kepada beliau untuk mengambil ilmu al-qur’an atau sekedar tabarukan.

Mbah Malik tidak meninggalkan harta ataupun karya tulis, namun karya agung beliau adalah karya yang dapat berjalan yaitu murid-murid beliau yang kini menjadi tokoh-tokoh masyarakat, ulama, kiyai, rijalul qaum (tokoh panutan) seperti diuangkapkan oleh al ‘alaamah al-mursyid al-habib Muhammad Luthfi bin Hasyim bin Aly bin Yahya.

Murid-murid Syaikh Abdul Malik

Murid-murid dari Syaikh Abdul Malik diantaranya KH Abdul Qadir, Kiai Sa’id, KH Muhammad Ilyas Noor (mursyid Thariqah An-Naqsabandiyah Al-Khalidiyah sekarang), KH Sahlan (Pekalongan), Drs Ali Abu Bakar Bashalah (Yogyakarta), KH Hisyam Zaini (Jakarta), Habib Muhammad Luthfi bin Ali bin Yahya (Pekalongan), KH Ma’shum (Purwokerto) dan lain-lain.

Sebagaimana diungkapkan oleh murid beliau, yakni Habib Luthfi bin Yahya, Syaikh Abdul Malik tidak pernah menulis satu karya pun. “Karya-karya Al-Alamah Syaikh Abdul Malik adalah karya-karya yang dapat berjalan, yakni murid-murid beliau, baik dari kalangan kyai, ulama maupun shalihin”, kata Habib Luthfi.

Diantara warisan beliau yang sampai sekarang masih menjadi amalan yang dibaca bagi para pengikut thariqah adalah buku kumpulan shalawat yang beliau himpun sendiri, yaitu “Al-Miftah al-Maqashid li-ahli at-Tauhid fi ash-Shalah ‘ala babillah al-Hamid al-majid Sayyidina Muhammad al-Fatih li-jami’i asy-Syada’id.”

Shalawat ini diperoleh di Madinah dari Sayyid Ahmad bin Muhammad Ridhwani Al-Madani. Konon, shalawat ini memiliki manfaat yang sangat banyak, diantaranya bila dibaca, maka pahalanya sama seperti membaca kitab Dala’ilu al-Khairat sebanyak seratus sepuluh kali, dapat digunakan untuk menolak bencana dan dijauhkan dari siksa neraka.

Syaikh Abdul Malik semasa hidupnya memegang dua thariqah besar (sebagai mursyid) yaitu: Thariqah An-Naqsabandiyah Al-Khalidiyah dan Thariqah Asy-Syadziliyah. Sanad thariqah An-Naqsabandiyah Al-Khalidiyah telah ia peroleh secara langsung dari ayah beliau yakni Syaikh Muhammad Ilyas, sedangkan sanad Thariqah Asy-Sadziliyah diperolehnya dari As-Sayyid Ahmad An-Nahrawi Al-Makki (Mekkah).

Dalam hidupnya, Syaikh Abdul Malik memiliki dua amalan wirid utama dan sangat besar, yaitu membaca Al-Qur’an dan Shalawat. Beliau tak kurang membaca shalawat sebanyak 16.000 kali dalam setiap harinya dan sekali menghatamkan Al-Qur’an. Adapun shalawat yang diamalkan adalah shalawat Nabi Khidir AS atau lebih sering disebut shalawat rahmat, yakni “Shallallah ‘ala Muhammad”. Dan itu adalah shalawat yang sering beliau ijazahkan kepada para tamu dan murid beliau. Adapun shalawat-shalawat yang lain ialah shalawat Al-Fatih, Al-Anwar dan lain-lain.

Beliau juga dikenal sebagai ulama yang mempunyai kepribadian yang sabar, zuhud, tawadhu dan sifat-sifat kemuliaan yang menunjukan ketinggian dari akhlaq yang melekat pada diri beliau. Sehingga amat wajarlah bila masyarakat Banyumas dan sekitarnya sangat mencintai dan menghormatinya.

Di samping dikenal memiliki hubungan yang baik dengan para ulama besar umumnya, Syaikh Abdul Malik mempunyai hubungan yang sangat erat dengan ulama dan habaib yang dianggap oleh banyak orang telah mencapai derajat waliyullah, seperti Habib Soleh bin Muhsin Al-Hamid (Tanggul, Jember), Habib Ahmad Bilfaqih (Yogyakarta), Habib Husein bin Hadi Al-Hamid (Brani, Probolinggo), KH Hasan Mangli (Magelang), Habib Hamid bin Yahya (Sokaraja, Banyumas) dan lain-lain.

Diceritakan, saat Habib Soleh Tanggul pergi ke Pekalongan untuk menghadiri sebuah haul. Selesai acara haul, Habib Soleh berkata kepada para jamaah,”Apakah kalian tahu, siapakah gerangan orang yang akan datang kemari? Dia adalah salah seorang pembesar kaum ‘arifin di tanah Jawa.” Tidak lama kemudian datanglah Syaik Abdul Malik dan jamaah pun terkejut melihatnya.

Hal yang sama juga dikatakan oleh Habib Husein bin Hadi Al-Hamid (Brani, Kraksaan, Probolinggo) bahwa ketika Syaikh Abdul Malik berkunjung ke rumahnya bersama rombongan, Habib Husein berkata, ”Aku harus di pintu karena aku mau menyambut salah satu pembesar Wali Allah.”

Satu hal yang sering diungkapkan dalam berbagai kesempatan oleh murid kesayangan Mbah Malik yakni Habib Luthfi bin Aly bin Hasyim bin Yahya (Pekalongan) bahwa beliau memiliki ratusan guru ruhani, tapi yang “kemantil-kantil” di pelupuk mata beliau adalah Mbah Malik.

Tiga hal yang diwasiatkan kepada penerus Mbah Malik yaitu; jangan tinggalkan shalat, jangan tinggalkan al-Qur’an dan jangan tinggalkan shalawat. Di samping itu dalam berbagai kesempatan Mbah Malik sering menyampaikan pesan-pesannya kepada murid-murid dan cucu-cucu beliau untuk melakukan dua hal, yaitu pertama agar selalu membaca shalawat kepada Rasulullah SAW dan kedua agar selalu mencintai serta menghormati dzuriyyah (cucu-cucu ) Rasulullah SAW.

Penerus Mbah Malik

Mbah Malik adalah guru besar Thariqah An-Naqsabandiyah Al-Khalidiyah dan As-Syadziliyah Indonesia. Silsilah kemursyidan diserahkan kepada murid kesayangan beliau (Habib Muhammad Luthfi bin Aly bin Hasyim bin Yahya dan cucu beliau Abdul Qadir bin Lyas Noor).

Kalau kepada sang cucu hanya kemursyidan thariqah An-Naqsabandiyah al-Khalidiyahnya saja, namun kemursyidan kedua thariqah besar tersebut (Naqsyabandi dan Syadzili) diserahkan kepada muridnya yakni Habib Muhammad Luthfi bin Aly bin Hasyim bin Yahya.

Mbah Malik menurunkan seorang anak laki-laki dari Nyai Siti Warsiti yang lebih dikenal Mbah Johar (putri syaikh Abubakar bin H Yahya, Kaliwedi, guru mbah Malik) yakni Ahmad Busyairi, namun meninggall dalam usia 36 tahun (1953). Sedang dari Mbah Mrenek Maos Cilacap, tidak dikaruniai anak. Dari perkawainannya dengan Nyai Siti Hasanah putri H Abdul Khalil (Kedung Paruk), ia menurunkan seorang putri yaitu Nyai Khairiyah. Sang putri tunggal Nyai Khairiyah ini menurunkan sembilan anak. Dengan Kyai Anshor Sokaraja, satu orang putri yaitu Hj Siti Fauziyah dan dari Kyai Ilyas Noor, delapan anak tiga laki-laki dan lima perempuan yaitu Hj Siti Faridah, KH Abdul Qadir, Siti Fatimah, Siti Rogayah, KH Sa’id, KH Muhammad Ilyas Noor , Hj Isti Rochati dan Nurul Mu’minah.

Tiga penerus Mbah Malik yang meneruskan amaliah Mbah Malik masing-masing yakni pertama, KH Abdul Qadir bin KH Ilyas Noor Subtil Malik lahir di Kedung Paruk 11 Oktober 1942 wafat pada hari Selasa 19 Maret 2002 (5 Muharam 1423 H) dalam usia 60 tahun dan dimakamkan dibelakang Masjid Bahaa-ul-Haq wa Dhiyaa-uf-Dien. Ia memangku kemursyidan selama 22 tahun (1980-2002).

Penerus kedua yakni yakni KH Sa’id bin KH Ilyas Noor Subtil Malik lahir di Kedung Paruk pada tanggal 15 April 1951 wafat pada hari kamis tanggal 3 Juli 2004 dalam usia 53 tahun dan dimakamkan di belakang Masjid Bahaa-ul-Haq wa Dhiyaa-uf-Dien. Ia memangku kemursyidan selama 2 tahun (2002-2004). Selepas itu kemursyidan thariqah dari tahun 2004 sampai sekarang dipegang oleh KH Muhammad bin KH Ilyas Noor Subtil Malik.

Syaikh Abdul Malik wafat pada hari Kamis, 2 Jumadil Akhir 1400 H (17 April 1980) pada usia 99 tahun dan dimakamkan di belakang masjid Bahaaul-Haq wa Dhiyaa-ud-Dien, Kedung Paruk, Purwokerto, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah dan memangku kemursyidan selama 68 tahun (1912-1980).

#jatmandepok.com #banyumasnews.com

MUSYAWARAH PEMBENTUKAN PENGURUS IDAROH GHUSNIYYAH JATMAN CILODONG KOTA DEPOK

DEPOK — Alhamdulillah musyawarah pembentukan pengurus idaroh ghusniyyah kecamatan Cilodong, pada hari ini Tanggal 21 Februari 2019 bertepatan dengan tanggal 16 Jumadil Akhir 1440H, Bertempat di Majlis Pacul Langit Rt.03 Rw.05 Kelurahan Cilodong Kecamatan Cilodong Kota Depok.

Acara dihadiri pengurus Idaroh Syu’biyyah JATMAN Kota Depok. Diantara Rois Idaroh Syubiyyah JATMAN Kota Depok, KH. Fatkhuri Wahmad, Mudir JATMAN Kota Depok Romo Willy Albert alhafidz, Sekretaris Jatman Kota Depok Alustadz Sutrisno. Juga hadir Pengurus MWCNU Kecamatan Cilodong Kota Depok, Alustadz Haryadi Hasyim selaku katib MWCNU Cilodong dan Alustadz Rudi S Halimi selaku Sekretaris MWCNU Cilodong, Sahabat BANSER Satkoryon Cilodong, Juga para jamaah ahlit thoriqoh, majlis dzikir dan shalawat setempat.

Setelah pengarahan dari Rois dan Mudir JATMAN Kota Depok, Musyawarah dengan mufakat memilih susunan pengurus Idaroh Ghusniyyah JATMAN Cilodong Kota Depok. Menetapkan:

1. Majlis Ifta :
alustadz Iskandar

2. Ifadiyyah
– Rois : alustadz Lukman Nursalim
– Khatib : Alustadz Setiono

3. Imdloiyyah :
-Mudir : alustadz Agus Supriyanto
-Sekretaris : Alustadz Heri Puryanto
-Aminussunduq : Alustadz Sadirun

Menyusul dalam 14 hari kelengkapan dan penambahan susunan pengurus tambahan Idaroh Ghusniyyah JATMAN Cilodong Kota Depok. Acara kemudian sambutan dari Rois Idaroh Ghusniyyah JATMAN Cilodong terpilih Alustadz Lukman Nursalim yang juga pengasuh Majlis Pacul Langit, kemudian ditutup do’a oleh Rois Idaroh JATMAN Kota Depok KH. Fatkhuri Wahmad.

#hg

RUTINAN SELASA KLIWON JATMAN KOTA DEPOK

DEPOK, 18 Februari 2019 — Rutinan selasa kliwon kembali digelar di ruang auditorium gedung PCNU Kota Depok lantai 2 Jl. Kalimulya no. 5B Cilodong Kota Depok.

Acara dibuka oleh Sekjen PCNU Kota Depok, Alustadz H. Nasihun Syahroni, dikarenakan Romo Willy Albert yang tampak hadir dan memimpin acara selaku Mudir Idaroh Syu’biyyah JATMAN Kota Depok, sedang berhalangan memandu. Selanjutnya jamaah mengikuti acara dzikrul ghofilin yang dipimpin oleh KH. Ahmad Bukhori, atau yang bisa disapa mbah Mad. Tampak jamaah begitu khikmat dalam dzikir.

Acara Rutinan JATMAN Cabang Kota Depok Selasa Kliwon yang diisi Dzikrul Ghofilin, shalawat Thoriqiyyah, dan ceramah Tasawuf, dihadiri ratusan jamaah. Diantaranya jamaah ahli thoriqoh TQN, syatariyyah Rafles Cibubur, Syadziliyyah asuhan alustdz Lukman bersama jamaah dari Cilodong.

Tampak juga hadir jajaran Syuriah PCNU Kota Depok Kiayi Hariruddin, juga Wakil Ketua PWNU Jawa Barat KH. Raden Salamun Adiningrat.
Beberapa Ketua lembaga PCNU Kota Depok, diantaranya Lembaga LESBUMI, Romo Donny dan Ketua LAKPESDAM, Doktor Fatih Royani. Tidak ketinggalan perwakilan dari beberapa ranting NU dan MWC NU sekota Depok.

Acara ditutup ceramah tasawuf dan Do’a langsung oleh Rois Idaroh Syu’biyyah Jam’iyah Ahli Thariqah Almu’tabarah Annahdliyah Kota Depok, KH. Fatkhuri Wahmad.

#hg

SULUK IWAK TELU SIRAH SANUNGGAL

Ketika masuk dalam kompleks Keraton Kacirebonan dan Keraton Keprabon kerap terlihat simbol-simbol yang terpampang, salah satunya simbol tiga ikan yang kepalanya menyatu (iwak telu sirah sanunggal), yang terukir indah di beberapa daun pintu, ada pula yang menempel di sisi-sisi atas dinding keraton.

Kenapa simbol itu digunakan dan apa landasan maknanya. Raffan S Hasyim, sejarawan Cirebon menguraikan, asal mula simbol ikan bersumber dari manuskrip-manuskrip Cirebon abad 19 yang belakangan kemudian dijadikan lambang resmi Keraton Kacirebonan. Ia merupakan ilustrasi ajaran tarekat Syattariyah yang menjelaskan makna ora pecat (kebersatuan), baik antara Adam (manusia) Mahammad (syariat) dan Allah, antara jasad, roh dan Allah, maupun kesatuan tauhid antara zat, sifat dan af ‘al (perbuatan).

Dengan mengutip Kitab Babon Petarekatan. Opan, panggilan akrab Raffan S Hasyim menambahkan, simbol ikan dapat juga dimaknai sebagai ilustrasi konsep manunggaling kawula gusti (wihdatul wujud) atau penggambaran dari penjelasan ayat wallahu ‘ala kulli syaiin mukhit (Sesungguhnya Allah atas segala sesuatu Maha Meliputi).

Simbolisme ikan dalam ajaran tarekat menurut Mahrus El-Mawa, filolog Cirebon, menunjukkan bahwa sejak dulu di Cirebon telah terjadi pribumisasi Islam atau yang lebih khusus, pribumisasi tarekat. Dalam konteks ini, tarekat Syattariyah yang berasal dari negeri luar (India), oleh kecerdasan dan kreatifitas para ulama Cirebon disesuaikan dengan kultur lokal masyarakat Cirebon melalui proses akulturasi.

Kenapa ikan, bukan ilustrasi benda lainnya? Dalam disertasinya di Universitas Indonesia yang meneliti isi manuskrip Cirebon, Sattariyyah wa Muhammadiyyah, Mahrus berhipotesa bahwa masyarakat Cirebon yang merupakan masyarakat nelayan, masyarakat pesisir, sangat akrab dengan ikan. Jadi, simbolisasi ikan akan lebih mudah dimengerti oleh masyarakat Cirebon dalam memahami ajaran tasawuf, yang kemudian diamalkan menjadi laku spiritual kehidupan sehari-hari.

Tarekat di Cirebon

Tidak ada, atau tepatnya belum ditemukan catatan historis yang dapat memastikan kapan dan tarekat mana yang mula-mula berkembang dan menjadi terlembagakan sebagai organisasi spiritual yang hadir di Nusantara. Kendati demikian, Martin van Bruinessen berpandangan bahwa berdasarkan Serat Banten Rante-rante, Sunan Gunung Jati pernah melakukan perjalanan ke tanah Suci dan berjumpa dengan Syaikh Najmuddin Kubra dan Syaikh Abu Hasan Asy- Syadzili.

Dalam bukunya, Kitab Kuning: Pesantren dan Tarekat, Tradisi-tradisi Islam di Indonesia, Martin menduga, dari kedua tokoh berlainan masa itu sang sunan konon menjadi pengikut Tarekat Kubrawiyyah dan Syadziliyyah sekaligus memperoleh ijazah kemursyidan dari keduanya. Meski jika mengacu pada data kronologi sejarah tentu saja pertemuan fisik antara Sunan Gunung Jati yang hidup di abad 16 dengan Syaikh Abul Hasan Asy-Syadzili yang wafat di abad 13, apalagi dengan Syaikh Najmudin Kubra yang wafat pada tahun 1221 M, secara faktual tidaklah mungkin.

Terlepas dari kebenaran cerita dalam Serat Banten Rante-rante, Agus Sunyoto justru menyuguhkan data yang berbeda, meski tidak terlembagakan, mengacu pada naskah-naskah Wangsakerta, dalam buku Suluk Abdul Jalil, Agus menyebut bahwa tarekat yang awal mula berkembang di Cirebon adalah tarekat Syattariyah yang dibawa oleh Syekh Datuk Kahfi, guru spritualnya Syekh Siti Jenar, pembawa ajaran tarekat Akmaliyah. Mengapa tidak terlembagakan, karena, lanjut Agus, dalam tradisi tarekat pertama kali tidak mengenal konsep jama’ah dalam mujahadah sehingga dilakukan sendiri-sendiri.

Dinamika Syattariyah di Cirebon kemudian mengalami perkembangan seiring dengan kemunculan tokoh-tokoh Syattariyah lokal di Cirebon. Para tokoh tersebut mengembangkan Syattariyah di lingkungan kraton dan pesantren sesuai dengan silsilah wirid dan dzikir dari setiap guru (mursyid). Kiai Muhammad Arjain diduga mengembangkan Syattariyah di Kraton Kacirebonan dan Kanoman melalui jalur Syekh Abd al-Muhyi. Kiai Muqayyim mengembangkan Syattariyah di lingkungan tertentui. Kiai Anwaruddin Kriyan diyakini mengembangkan Syattariyah di Pesantren Buntet dan Pesantren Bendakerep. Pangeran Jatmaningrat Muhammad Safiuddin diyakini mengembangkan Syattariyah di Kraton Keprabonan, Kanoman, Kasepuhan, dan Pesantren Balerante. Yang disebut terakhir inilah silsilah Syattariyah Cirebon memiliki kekhasan simbolisme iwak telu sirah sanunggal yang tidak dapat ditemui dalam silsilah Syattariyah Pamijahan, Minangkabau, Aceh maupun daerah lainnya.

*********

Sementara, dalam Simposium Internasional Manassa Kaji Suluk Iwak Telu Sirah Sanunggal pada 2016 silam. Pernah ada kajian.

Masyarakat Pernaskahan Nusantara (Manassa) menggelar Simposium Internasional Pernaskahan Nusantara ke-16 dengan menggandeng Perpustakaan Nasional RI (PNRI). Kegiatan yang dilaksanakan September 2016 akhir itu menghadirkan para Filolog internasional diantaranya mengkaji Suluk Iwak Telu Sirah Sanunggal dalam Naskah Syatariyah wa Muhammadiyah (SWM) di Cirebon yang ditulis dan dibawakan oleh Dr Mahrus El-Mawa, Filolog lulusan Universitas Indonesia (UI).

Mahrus mengungkapkan, di tengah riset tentang tarekat Syatariyah di Cirebon, terdapat ungkapan dari salah seorang mursyid, bahwa ilustrasi dalam SWM dengan iwak telu sirah sanunggal (tiga ikan satu kepala, trimina) itu disebut pula sebagai suluk Syatariyah. Hanya saja, dalam berbagai naskah dan kajian literatur, belum ditemukan dengan jelas, bahwa trimina itu disebut sebagai suluk Syatariyah.

“Tulisan ini menganalisis bagaimana iwak telu sirah sanunggal dalam SWM itu dapat disebut sebagai suluk Syatariyah di Cirebon yang berpengaruh di daerah lainnya,” terang Mahrus, Pendiri Pusat Kajian Cirebon IAIN Syekh Nurjati Cirebon.

Pria yang juga aktif sebagai Wakil Sekretaris Pimpinan Pusat Lembaga Pendidikan Ma’arif Nahdlatul Ulama (PP LP Ma’arif NU) ini juga menjelaskan, SWM merupakan salah satu kitab panduan tarekat Syatariyah dari seorang guru bernama Raden Muhammad Nurullah Habibuddin. Habibuddin memberikan ijazah Tarekat Syatariyah kepada ketiga anaknya, Partakusuma, Jayadikusuma dan Partasuwarma.

“Naskah SWM yang dikaji ini berasal dari silsilah Partakusumah. Pemilik naskah, Mohammad Hilman, menceritakan bahwa naskah ini diperoleh dari ayahnya, yang juga mursyid Syatariyah, bernama Pangeran Ibrahim atau Syaikh Khaliluddin (wafat 2003). Pangeran Ibrahim memperolehnya dari Partadikusumah (wafat 1960-an) atau dikenal juga dengan nama Partakusuma dengan gelar kemursyidannya, Badriddin,” papar Mahrus.

Dalam silsilah naskah SWM, terang Mahrus, terdapat beberapa nama tokoh penting dalam dunia tarekat yaitu Abdullah bin Abdul Qahhar dan Syaikh ‘Alim ar-Rabbani (Syaikh Ahmad Qusyasyi). Abdullah bin Abdul Qahhar dikenal sebagai penasihat Sultan Banten pada abad ke-18, guru tarekat Syatariyah dan beberapa tarekat lainnya, baik di Cirebon, Cianjur, maupun Banten.

“Ia menghasilkan beberapa karya yang cukup terkenal, seperti kitab Fath al-Mulk Liyasila Ila Malik al-Muluk ‘Ala Qa’idat Ahl al-Suluk. Bahkan, menurut temuan penelitian terakhir, Abdullah bin Abdul Qahhar juga pernah tinggal di Mindanao dan menjadi mursyid,” jelasnya.

Ilustrasi 3 ikan 1 kepala

Adapun ilustrasi trimina, terang Mahrus, tiga ikan satu kepala atau iwak telu sirah sanunggal (ITSS) merupakan kreasi dari Syaikh Ismail dari Arab. Gambar ITSS dalam teks SWM dapat menjadi keunikan tersendiri karena letaknya berbeda dengan naskah-naskah lain di Jawa yang mencantumkan ITSS, misalnya Lamongan, Ngawi, dan Gresik.

Ilustrasi ITSS disebut tauhid trimina karena terdapat penjelasan berkaitan dengan unsur-unsur ketauhidan. Dalam teks SWM, ilustrasi ITSS itu digambarkan untuk menjelaskan relasi hamba (kawula) dan Tuhan (gusti) pada saat pertanyaan tentang “orang yang mengetahui Tuhannya menjadi tidak tahu kepada dirinya, bagaimana tingkahnya?”. Dari pertanyaan itu lalu seorang murid hendaknya dapat memahami antara zat (Allah), sifah (ruh), dan af’al (jasad) sebagai satu kesatuan yang diibaratkan dengan tiga ikan satu kepala.

Selain membahas kajian per variabel dalam naskah SWM, Mahrus juga menjelaskan secara integral antara Suluk Cirebon dengan Suluk Iwak Telu Sirah Sanunggal. Di titik ini, sebagai bagian dari tarekat, suluk iwak telu berkaitan dengan zikir dan wirid Syatariyah. Seperti disebutkan dalam teks-teks Syatariyah Cirebon, zikir dan wirid tersebut disimbolkan dengan huruf Lam Alif yang diibaratkan sebagai bahu, dada, dan perut.

Kedua ilustrasi tersebut menurut Mahrus sebagai suluk Syatariyah hampir sama dengan temuan penelitian pada LOr 7378 tentang 41 Suluk Cirebonan. Hanya saja, dalam 41 suluk itu tidak ada suluk dari lafal-lafal tersebut, tetapi dipengaruhi oleh ajaran Martabat Tujuh.

Ilustrasi tiga ikan satu kepala dapat dianggap menjadi ciri khas Syatariyah Cirebon dengan silsilah Abdullah bin Abdul Qahhar di dalamnya. Akan tetapi, ungkap Mahrus, ilustrasi tiga ikan tersebut tidak hanya di Cirebon saja, sebab ditemukan pula di Drajat Lamongan, Jawa Timur, yaitu naskah milik Kiai H. Muhammad Bakrin. Naskah tersebut ditulis sekitar abad ke-17. Pada halaman 82 naskah Drajat ini ada kalimat yang menunjukkan bahwa naskah ini mempunyai kaitan asal-usul dengan Cirebon.

Di akhir penjelasannya, dia menyimpulkan bahwa iwak telu sirah sanunggal dalam naskah SWM dapat disebut sebagai suluk Syatariyah di Cirebon. Dengan suluk iwak telu sirah sanunggal dari Cirebon ini telah tersebar ajaran tarekat Syatariyah ke berbagai daerah, baik di Jawa Barat, Jawa Timur, maupun lainnya, seperti Mindanao. Hal itu tercermin pula melalui sosok Abdullah bin Abdul Qahhar, yang menjadi ciri dari Syatariyah dengan ilustrasi iwak telu sirah sanunggal.

#nu.or.id #jatmandepok.com

ROIS IDAROH JATMAN DEPOK ADAKAN SANTUNAN ANAK YATIM

DEPOK — Selasa, 13/02/2019. Majlis Ta’lim Dan Dzikir Al-Bahrain asuhan KH. Fatkhuri Wahmad, Rois Idarah Syu’biyah Jam’iyyah Ahlith Thariqah Al Mu’tabarh An Nahdliyah (JATMAN) Depok, mengadakan santunan anak yatim.

Santunan ini sebagai bentuk cinta dan kepedulian terhadap anak yatim. Kegiatan ini juga sebagai implementasi ajaran agama Islam dan pengajian thoriqoh.

Pada acara kali ini, beberapa anak diberikan santunan langsung oleh beliau di Majlis Al-Bahrain yang beralamat di Jl. K.H. Abdurahman No.15, Pondok Jaya, Cipayung, Kota Depok, Jawa Barat 16438.

Tampak perwakilan tokoh masyarakat setempat lainnya ikut hadir pada acara yang berbahagia tersebut.

Namun sampai berita ini diturunkan redaksi jatmandepok.com tidak memiliki keterangan lebih lanjut mengenai acara ini. Dikarenakan Kiayi Rois tidak mengumumkan di grup WA JATMAN Depok atau pengumuman resmi lainnya. Keterangan dan dokumentasi acara didapat dari beberapa anggota grup WA Majlis AlBahrain. (hg)

SEBINGKIS CINTA NAHDLATUL ULAMA

BAGIAN 2 LANJUTAN KOIN KALENG NAHDLATUL ULAMA KOTA DEPOK, PRNU PONDOK JAYA

DEPOK — Tidak mau kalah dengan bapak-bapak pengurus PRNU Pondok Jaya, “The Power of Emak-Emak” Muslimat PRNU Pondok Jaya tampak turun tangan Ke lapangan. Tak lama berselang sempat mengirim hasil dokumentasi (red– jatmandepok.com) beberapa perwakilan penerima Program Koin Kaleng Nahdlatul Ulama Kota Depok, PRNU Pondok Jaya.

“Terimakasih bu, Terimakasih Nahdlatul Ulama. Seberapapun kita sangat bersyukur dan berbahagia telah ada yg memperhatikan, dan silaturim….”. ucap ibu Inah, salah satu penerima bantuan kepada ustadzah Sadiyah pengurus muslimat PRNU Pondok Jaya Kecamatan Cipayung Kota Depok.

Hari ini para Janda yang kurang mampu di kelurahan Pondok Jaya Kecamatan Cipayung tampak jelas diwarnai kebahagiaan, dari wajah penerima maupun pengantar paket dari para pengurus PRNU. Saat berita ini diturunkan redaksi jatmandepok.com masih terus menerima unggahan poto penyerahan satu persatu warga penerima, Selesai acara pengajian warga.

“Memang, strategi kedepan sepertinya, bagus kalau ranting bareng sama Muslimat buat program bersama.” Alustadz Ferry Indrawan Nasution selaku Pengurus Struktur PRNU Pondok Jaya menambahkan keterangan.

Atas kesepakatan bersama dalam rapat pengurus bahwa paket sembako tidak diambil kemudian dibagikan dengan antrian. Namun diantarkan langsung dari pintu ke pintu warga penerima.

“Iya kami antar langsung. Menimbang banyaknya “para orang tua kita, ibunda-ibunda kita ini sudah pada sepuh (lanjut usia -red), banyak yang dalam kondisi kurang sehat fisiknya, dan beberapa lemah untuk jalan. Lagian selain silaturahim kita juga ngalap berkah dari orangtua. yah Alhamdulillah.. Alhamdulillahi Robbil ‘aalamiin” tutupnya.

Depok 10-2-2019 #hg

KOIN KALENG NAHDLATUL ULAMA KOTA DEPOK, PRNU PONDOK JAYA

DEPOK — “Assalamualaikum, mak, dari NU mudah-mudahan lekas sehat. Minta doanya kami biar berkah ngaji di NU ya mak.” alustadz Hasyim Juhari Ketua tanfidziyah PRNU Pondok Jaya, yang biasa disapa warga setempat pak Amil, kepala sekolah MI. Sambil menyerahkan “sembako” untuk Janda Dhuafa warga kelurahan Pondok Jaya. Kali ini program menyasar kepada janda tua yang dhuafa, sesuai instruksi KH. Muhammad Rois, selaku Rois Syuriah MWCNU Cipayung yang juga adalah Katib Ifadliyyah JATMAN Cabang Kota Depok.

Sebelumnya, PRNU Pondok Jaya telah melakukan sumbangan rutin kepada yatim piatu serta anak sekolah kurang mampu. Program rutin bulanan ini adalah program koin kaleng Nahdlatul Ulama, PRNU Pondok Jaya kecamatan Cipayung Kota Depok.

“Hari ini (Minggu 10/2/2019 -red) PRNU Pondok Jaya ingin berbagi sedikit berupa sebako kepada saudara kita yg membutuhkan dari koin receh yg dikumpulkan setiap bulan. Mudah-mudahan bermanfaat dan kepada semua pihak, para Warga PRNU pondok jaya yg telah membantu sehingga terlaksana kegiatan ini semoga diberikan keberkahan dan sehat walafiat beserta keluarga. Dan bulan depan dapat memberikan bakti lagi. Amiin.” Ucapan syukur dan terimakasih beliau haturkan selaku ketua tanfidziyah PRNU Pondok Jaya Kecamatan Cipayung Kota Depok.

bersambung… #hg

Lantunan Shalawat Qasidah Burdah Membahana di Masjid Kubah Emas

DEPOK — Majlis Ta’lim Wa Dzikir Hizb Hirzil Jausyan Dan Qasidah Burdah asuhan Abuya KH. M Junaidi HMS menyelenggarakan rutinan Qasidah Burdah dan Dzikrul Jausyan, Minggu 9 Febuari 2019M atau 4 Jumadil Tsani 1440H di Masjid Kubah Emas Dian Almahri Kota Depok.

Acara berlangsung hikmat, di masjid yang megah dan agung tersebut ba’da isya, tepatnya pukul 19.30 WIB sampai dengan selesai. Setelah pembacaan Qasidah Burdah secara berjamaah, acara ditutup dengan do’a oleh Abuya KH. M Junaidi HMS yang juga Anggota Majlis Ifta walirsyad Idarah Syu’biyah Jam’iyyah Ahlith Thariqah Al Mu’tabarh An Nahdliyah (JATMAN) Depok.

Dihadiri ratusan jamaah yang tampak khusyu dan tertib, acara juga turut dihadiri para ulama dan habaib. diantaranya hadir Rois syuriah PCNU Kota Depok Abuya KH. Zainuddin Ma’shum Ali, Ketua JQH alustadz Imam Nafi alhafizh, juga Koordinator Imadiyyah Lajnah Cinta Tanah air JATMAN Cabang Kota Depok, Bapak. Muhammad Sodiq sekaligus bersama bapak wakapolres sebagai perwakilan dari POLRES Kota Depok.

“Acara ini digelar rutinan dua bulan sekali di malam minggu pertama.” ungkap alustadz Jaway.

“Acaranya kerjasama antara management Masjid Kubah Emas (H. Moh. Ilham, SE) dengan Himpunan Alumni Santri Lirboyo Cabang Depok & Bogor yang diketuai oleh Alustadz M. Farid Firdaus.” tambah beliau.

#hg

Karomah Para Wali, dari Mbah Hamid hingga Kiai Dimyati

Teman-teman Naqshabandi Semarang mengharapkan saya (Moh Yasir Alimi) menemani perjalanan mereka dan Syaikh Syaikh Mustafa Mas’ud al-Naqsabandi al-Haqqani ke Jogja agar kami bisa ngobrol di mobil. Perjalanan kami melewati Salatiga, dan di sinilah, Syaikh Mus bercerita tentang Kiai Munajat.

Cerita ini dan juga cerita tentang Mbah Dimyati memberi ilustrasi tentang getar di dada, rasa yang hidup dan bergelora di dada Sayidina Abu Bakar dimiliki oleh Kiai-Kiai NU. Rasa dan getar di dada yang muncul karena dzikir, yang bahkan setelah kewafatan mereka pun mereka masih “online“.

Cerita ini menjadi semakin menarik dikaitkan dengan cerita Kiai Said tentang ulama-ulama Timur Tengah yang maju dalam intelektualitas tapi mereka gagal menjadi ruh bagi masyarakatnya. Santri bukan pakaian dan bukan identitas. Santri adalah rasa fana di dalam Allah dan keterkaitan dengan Rasullah. Menjadi santri adalah leburnya ego, hidupnya spiritual di dada, keterkaitan ruhani dengan Rasulullah dan menjadi rahmat bagi semesta. Berikut adalah wawancara saya dengan Syaikh Mustafa.

Ceritakan padaku tentang Kiai Munajat ini?

Kiai Munajat seorang kiai yang pemberani. Beliau menyelamatkan Kolonel Darsono meski dengan resiko. Setelah dua tahun lebih dari cerita Kolonel Darsono, Syaikh Mus baru datang ke sana. Sampai pada tepi sawah kemudian ketemu seorang petani.

“Ajeng teng pundi ki sanak? “Saya mau ke rumahnya Kiai Munajat”. “Oh saya antarkan, saya salah satu muridnya yang pertama.” Ternyata Kiai Munajat sudah wafat empat puluh hari sebelumnya. Kiai Munajat diteruskan oleh anaknya Kiai Munawir, Kiai Munawir ini seorang Kiai yang sangat tawadhu’. Walaupun sudah meninggal, teryata ada masih nyanbung. Santri-santrinya Kiai Munawair kalau menghapal Al-Qur’an di kuburan Kiai Munajat dan murid-murid merasa sangat gampang menghapal Al-Qur’an.

Di situ ngaji seperti suara lebah, karena ramainya mengaji. Saya pernah mengajak teman-teman mampir di sini, teman-teman pada bertanya “Ini ada acara apa?” “Ya ndak ada, ini memang seperti ini setiap harinya. Al-Qur’an tidak pernah berhenti.”

Kalau berkunjung, saya selalu mondok di sumur beliau. Airnya seger sekali. Tempat beliau dekat terminal Salatiga, dekat kantor NU. Kiai Munajat wafat tahun 1986 atau 1987. Hubungan saya dengan beliau begitu intens. Beliau Jenis orang yang sesudah meninggal masih “online”.

Subhanallah. Bagaimana dengan cerita tentang Mbah Dimyati?

Aulia jaman dahulu memang seperti Kiai Munajat itu. Yang model seperti itu di banyak tempat. Di Kedawung, Pemalang ada Mbah Dimyati. Sudah wafat pun masih membantu menghapalkan Al-Qur’an pada cucunya. Ternyata paman saya Kiai Dahlan Kholil mengambil ijah Al-Qur’an dari beliau. Isteri saya pernah dapat cerita dari anaknya bahwa cucunya kalau menghapal Al-Qur’an selalu di kamar Mbah Dim, dan dia merasa selalu disimak Mbah Dim.

Untuk mendapatkan perspektif bagaimana sosok Mbah Dim, ada suatu cerita begini. Suatu hari Mbah Dim menghadiri manaqib di Pekalongan. Ada Habib pulang duluan membawa mobil, Mbah Dim dengan sepeda onthel. Ternyata mobil tersebut mogok dan Mbah Dim mendapatinya.

“Mogok Bib?” tanya Kiai Dim.
“Ngenteni Njenengan, Kiai?” jawab Habib.
“Nggih mpun mriki. Ya sudah, ke sini. Kalau seperti itu tak lungguhani ‘Quran bodhol’.” (Saking tawadhu’nya beliau menyebut dirinya sebagai Al-Qur’an Bodhol, sudah awut-awutan, lepas-lepas kertasnya. MasyaAllah)
“Mpun monggo distater,” kata Kiai Dim.
“Sepedamu disendekke situ. Tak ampirke omahku. Ya sudah kuajak kau ke rumahku tak kei kopi” ajak sang Habib.

Itu tipikal ulama NU dulu yang sekarang semakin hilang. Linda yang akan kita kunjungi di Jogja ini, pernah bercerita pada saya begini. “Syaikh, ulama kalau bicara tentang kebaikan itu biasanya hanya omongan saja.” Apalagi sekarang, banyaknya kiai di TV. Itu profil scholarship yang ada sekarang. Hanya agama sebagai omongan saja.

Iya Syaikh. Kalau kita lihat sekarang agama di dunia Islam itu hanya omongan saja. Ketika orang bicara tentang kebaikan hanya ngomong saja. Allah pun menjadi sekedar omongan, bukan getar di dada. Allah menjadi sangat abstrak. Padahal Allah adalah Dhat yang Maha Lahir dan Maha Batin. Apa yang hidup di dada Abu Bakar, di Kiai Munajat, di Kiai Dimyati sebagai rukun Islam itu tidak ada. Apa sebabnya bisa menjadi begini?

Ada faktor eksternal dan internal. Faktor eksternal berupa operasi Yahudi agar umat Islam agar umat Islam saling bertengkar. Di Semenanjung Arabia, operasi Yahudi ini melahirkan wahabi.

Betul, Syaikh. Wahabi hanya menjadikan agama sebagai wacana saja, bukan keimanan. Al-Quran sebagai debat bukan sumber akhlak. Modus keagamaan Wahabi adalah debat. Melalui debat dan menyalahkan orang lain inilah mereka mendapatkan diri mereka sebagai Muslim. Bukan ibadah mereka pada Allah.

Di samping faktor eksternal itu ada juga faktor internal, yaitu internal weakness yang berupa: hubburiyasah (gila kekuasaan), karohiyatul maut (takut mati), dan hawa nafsu. Di lingkungan NU, tekanan eksternal itu adalah Suharto dengan deulamaisasi dan denuisasi. Suharto merusak ulama dan pesantrennya dengan cara menyebar uang dan menarik mereka dalam kekuasaan. Suharto rusak pesantren dan ulama, sehingga figur-figur seperti Kiai Munajat dan Kiai Dimyati tidak ke permukaan lagi.

Belum lama ini saya ke putera bungsunya Kiai Hamid Pasuruan. Saya dekat sekali dengan beliau.

“Syaikh, orang datang ke kita seperti datang ke Kahin.”

“Mending Gus, mereka ini datang njenengan bukan datang ke Kahin beneran,” jawab Syaikh Mus.

“Dulu, waktu Mbah Hamid, ada orang Madura datang ke rumah, membawa buntelan. Terus ditanya: Apa itu?”
“Biasa” jawabnya. “Kembang”.
“Digawe apa?” Tanya Kiai Hamid.
“Sampean dongani, agar kapalku dapat banyak ikan dan besar.”

“Oh, Ditaruh kapal. Kalau kembange ditaruh kapal, kembange jadi amis atau ikannya yang wangi. Taruh saja di rumah, di tempat tidurmu biar tempat tidurmu menjadi wangi,” saran Kiai Hamid dengan lemah lembut. “Kon deleh di sajadahmu biar kalau sembahyang menghirup bau wangi”.

“Baiklah kalau begitu, Kiai.”
Beberapa hari berikutnya sang nelayan datang dengan ikan besar.

“Saya mau memberikan ikan-ikan ini kepada Kiai. Karena doa kiai saya mendapatkan ikan yang besar dan banyak.”
“Lho aku belum doa je..” jawab Kiai Hamid sambil tersenyum. Inilah persembunyian dan ketawadhuan Kiai Hamid. Sebenarnya, tentu saja sudah didoakan.

Inilah kekuatan dan kelemahan internal. Inilah internal strength yang aku maksudkan. “aku belum berdoa loh”. Wah, Inilah persembunyian Kiai Hamid. Luar biasa. Kalau tanpa internal strengthness di dalam hati, siapapun akan gampang terseret tsunami dunia yang besar.

Karena kualitas-kualitas seperti inilah, maka beliau-beliau para ulama itu menjadi spreader of love cahaya Muhammad di segala penjuru. Maka di mana-mana saya mengajak muslim untuk haul, kembali menghidupkan pertalian batin mereka dengan Rasulullah.

Saya melakukannya dengan action plan, bukan dengan penjelasan, bukan dengan frame of reference. Ulama dahulu menunjukkannya dengan karomah. “Karena saya khodimnya Syaikh Nadhim, dalam fana fi syaikh, ibaratnya saya hanya memegang gagang tombak. Ujung tombaknya adalah Syaikh Nadhim. Sedangkan Syaikh Nadhim dalam kefanaannya fi rasul, beliau tidak ada. Beliau hanya mengadakan Rasulullah SAW untuk orang banyak dan kehidupan saat ini dalam suatu transparani”.

Perjalanan kami sudah sampai Magelang. Cerita kami berganti tentang Kiai Wahid Hasyim, ayahnya Gus Dur, pertalian antara lailatul ijtima NU dengan majelis dzikir Walisongo di Masjid Demak.

Saya akan menuliskan cerita ini dalam edisi berikutnya. Dengan cerita di atas, semoga bisa mengambil manfaat. selamat menghidupkan kembali rasa di hati, senantiasa tenggelam dalam hadharah Qudsiyyah Allah, dan menjalin pertalian dengan Rasulullah SAW, sehingga bisa berkata pada masalah umat. (NU Online)

Pasca Pertemuan antara Habib Luthfi dan Syaikh Abdul Somad

“Tak Melayu kalau bukan Islam”, itu ungkapan yang sering kita dengar di kalangan masyarakat Melayu. Artinya, Agama Islam dan Budaya Melayu sudah menjadi satu, bagai dua sisi dari keping mata uang logam.

Masyarakat Betawi, yang komponen utama budayanya adalah budaya Melayu, juga memiliki pemahaman yang sama. Bahkan, orang dari etnis Cina yang sering kali tidak disukai oleh masyarakat Betawi, apabila sudah masuk Islam juga tidak dianggap Cina lagi, sudah dianggap sebagai Melayu. Tak ada lagi rintangan kultural.

Ust. Abdul Somad adalah tokoh muballigh Melayu. Ilmu, akhlak, dan kharismanya sangat luas. Jumat (8/2) lalu beliau datang menjumpai Habib Luthfi bin Yahya yang Rais Aam JATMAN. Beliau mengkonsultasikan sanad Tarekat Sathariyah yang beliau terima dari ayahanda beliau. Bahkan beliau mendapatkan talqin-baiat tarekat lagi dari Habib Luthfi untuk memperkokoh kembali ketarekatan yang sudah beliau jalani selama ini.

Juga Habib Luthfi menganjurkan kepada yang hadir agar memanggil beliau dengan sebutan Syaikh Abdul Somad. Boleh juga kita populerkan dengan singkatan SyAS, untuk membedakan dengan singkatan nama KH. Said Agil Siraj (SAS).

Di Indonesia, tarekat adalah perekat utama dua budaya besar, yang dalam buku-buku antropologi sering disebut budaya M-J, budaya Melayu dan budaya Jawa. Bahasa Melayu yang penuh petuah-petuah sufistik menjadi Bahasa Indonesia. Adat istiadat Jawa yang diislamkan oleh Wali Songo juga sangat kental pengaruhnya dalam budaya kehidupan bangsa Indonesia. Pertemuan Syaikh Abdul Somad dengan Habib Luthfi memang fenomenal.

Islam-Iman-Ihsan adalah tiga doktrin (ajaran dasar) dari agama yang disampaikan oleh Jibril kepada Nabi Muhammad SAW. Dari implementasi doktrin Ihsan maka kelak berkembang ajaran-ajaran tashawuf dan kelompok-kelompok pengamalannya yang disebut thariqah. Maka Syariah-Aqidah-Thariqah adalah satu kesatuan dari tuntutan hidup yang diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW.

Semua itu tentu akan menambah kesadaran dan motivasi umat Islam Indonesia untuk bertarekat, dan bekerja lebih keras lagi dalam mengembangkan dan mendakwahkan tarekat. Bagi komunitas tarekat saat ini, tantangan terbesar ke dunia luar adalah, bagaimana caranya agar tarekat betul-betul “terbukti berperan nyata bagi pembentukan karakter”.
Teknologi apa yang harus dikembangkan untuk akselerasi tarekat sebagai pembentuk karakter. Teknologi tidak selalu bermakna alat atau mesin, tapi lebih bermakna cara atau metode. Akselerasi (percepatan) diperlukan karena perubahan-perubahan di dunia ini memang semakin cepat.

Perubahan besar dunia saat ini sangat dipengaruhi oleh pertumbuhan penduduk, perubahan Iklim dan teknologi disruptif.

Ketiga hal itu membuat orang harus mengubah cara pandang dan prinsip-prinsip (paradigma) kehidupan. Tarekat pun tak terlepas dari hal yang demikian.

Tarekat bukan menjebak orang pada kesibukan ritual prosedural berupa dzikir-dzikir saja. Tarekat bukan escapism (pelarian) yang menjadi alasan bagi orang untuk menjauhi peran dan tanggung jawab sosio-kultural. Tarekat bukan bentuk egoisme spiritual yang hanya mengedepankan kesalehan individual hamba dengan Tuhannya, tapi tidak ada kontribusi sosial dan peradaban bagi masyakat sekelilingnya.

Dalam sejarah peradaban Islam masa lalu, sejak penyeberannya dari tanah Hijaz ke seluruh dunia, bahkan dakwah Islam di negara-negara Barat saat ini, para ulama, dai, dan muballigh utama yang terlibat di dalamnya adalah juga orang-orang yang mengamalkan tarekat (dan tentu saja bersyariat dan beraqidah).

Semoga dengan pertemuan Syaikh Abdul Somad dan bergabungnya beliau dalam barisan JATMAN, akan memperkokoh arus dan gelombang perubahan peradaban Islam Indonesia menuju peradaban yang lebih spiritualistik. Selamat bekerja kepada para JATMANers.

Oleh: KH. Wahfiudin Sakam (Mudir Aam JATMAN)